SDM

Siap Mengadopsi Budaya Kerja Baru: Organisasi Tanpa Atasan?

oleh Wanita Wirausaha Femina

Foto-foto: dok. femina

Beberapa tahun ini, Dunia dan Indonesia menghadapi fenomena disrupsi digital, tidak dapat dipungkiri bahwa disrupsi ini mengubah tatanan yang sudah terbentuk dan sudah biasa digunakan. Bagaimana menghadapi perubahan yang terjadi di tempat kerja agar para pekerja dapat terus produktif dan perusahaan terus maju?
 
Menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi menurut Nia Sarinastiti sebagai Inclusion dan Diversity Lead of Accenture  Indonesia, tak ada cara terbaik selain beradaptasi dengan cara kerja yang telah mengalami perubahan sekarang ini. "Ini sangat penting untuk bertahan dan bersaing dengan pekerja lain," ujarnya dalam salah satu masterclass Indonesian Women's Forum 2018, bertema Adapting In the Shifting Corporate Culture, powered by Accenture.
 
 
Banyak perusahaan telah bergerak melakukan penyesuaian. Bahkan mengubah DNA-nya untuk beradaptasi, seperti yang dilakukan perusahaan Heavenly Blush.  "Kami telah menerapkan system holacracy dalam perusahaan Heavenly Blush. Ini mengubah budaya kerja di perusahaan Heavenly Blush. Holacracy adalah sistem baru yang diterapkan dengan menghapuskan kekuasaan yang dimiliki oleh atasan atau lebih kepada desentralisasi kekuasaan," ujar Dien Kwik Hong, CEO Heavenly Blush Indonesia.

Menurut Dien, otoritas harus didistribusikan dan juga setiap pekerja harus mampu menghadapi kesulitan di tempat kerja oleh mereka sendiri. Dengan begitu mereka akan dapat terus bertahan dalam era disrupsi ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, setiap orang bukan untuk dikendalikan. Maksudnya, yang diatur adalah individu dalam pekerjaannya. Jika sesuatu yang ia lakukan tidak berhubungan dengan pekerjaan atau tidak merugikan, maka perusahaan tidak mempunyai hak untuk mengatur.

Menurutnya tidak perlu terlalu banyak peraturan dalam perusahaan. Karena peraturan perusahaan yang terlalu banyak dapat membuat para pekerja tertekan dan akhirnya membuat pekerja tidak menikmati pekerjaannya, berkurang produktivitasnya, dan akhirnya tidak bisa bertahan. (f)

Citra Maharani (Kontributor)

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article