Solusi Menghadapi Karakter Sulit Karyawan Anda (bagian 1)

oleh Naomi Jayalaksana

Foto: Pixabay

Diajak bicara saja susah, apalagi diajak kerja sama? Setiap pemimpin pasti pernah merasakan pusingnya menghadapi karyawan 'sulit'. Mulai dari yang bersikap apatis, sampai yang selalu ingin jadi nomor satu.

Belum habis urusan dengan satu orang, Anda masih harus memikirkan bagaimana caranya menggalang kerja tim yang solid untuk mencapai tujuan perusahaan.

Justru disinilah kompetensi Anda sebagai seorang manajer dipertaruhkan. Tak hanya piawai membereskan urusan manajerial, seorang pemimpin juga harus mampu mengatasi segala perbedaan karakter yang ada. Ini tentu bukan perkara mudah, apalagi bila Anda dihadapkan pada perilaku yang sudah kadung melekat pada diri bawahan.

Konsultan karier Windy Poerwono dari Orly Consulting membantu Anda mengenali tipe-tipe karyawan ’sulit’ dan solusi tepat menghadapinya.

TIRAN
Karyawan yang satu ini punya hobi 'menindas' rekan kerjanya. Selain gemar memanfaatkan posisi atau jabatan demi kepentingan pribadi, si tiran ini juga kerap melemparkan jatah pekerjaan kepada rekan sekerja mereka dengan semena-mena. Apalagi kalau si rekan kerja tersebut lebih junior daripadanya, dia akan makin leluasa dalam mengintimidasi.

Tak jarang, bentuk intimidasi ini disertai penetapan tenggat waktu yang terkesan seenaknya dan tidak masuk akal. Akibatnya si rekan kerja merasa kewalahan mengatur jadwal pengerjaan untuk proyek tambahan tersebut.

”Terserah bagaimana caramu, yang penting file itu harus sudah ada di meja saya dalam waktu satu jam,” demikian biasanya ucapan yang sering terlontar dari bibir si tiran.

SOLUSI: Senioritas dan kebiasaan mengalihkan tanggung jawab bukanlah budaya kerja yang patut dilestarikan. Apalagi, setiap orang sudah memiliki jatah tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.

Sebagai pemimpin, Anda harus jeli menandai orang-orang yang sering mengambil kesempatan dalam kesempitan ini. Tekankan bahwa dunia profesionalisme tidak memperhitungkan senioritas sebagai identitas yang menentukan strata seseorang dalam lingkungan pekerjaan. Dengan demikian, setiap pegawai, baik senior maupun junior memiliki hak yang sama dalam mengutarakan pendapat dan menyatakan sikap.

Terapkan budaya kerja yang berpanduan pada to-do list. Jadi, seseorang tidak bisa seenaknya saja melemparkan tanggung jawab atau mendelegasikan tugas, apabila kondisi memang tidak memungkinkan bagi si rekan kerja untuk mengerjakan permintaannya tersebut. Dan sebagai pemimpin, Anda juga punya kewajiban untuk memonitor beban kerja dari masing-masing anak buah, sehingga tidak 'kecolongan'.

MUKA DUA
Lain di depan, lain pula di belakang. Di depan orang ia bisa memasang raut wajah manis penuh persahabatan. Tapi di balik punggung, ia tega menebar fitnah kejam yang bisa menghambat karier sesama rekan kerjanya. Ulahnya yang satu ini sering menjadi pemicu pecahnya konflik di lingkungan kerja. Akibatnya atmosfer kerja selalu memanas dan tak lagi kondusif.

Si muka dua ini tak ragu menggunakan 'jalan pintas' untuk memeroleh keinginannya. Antara lain dengan menebarkan kabar 'miring' yang bertujuan untuk menjatuhkan kredibilitas seseorang di mata atasan. Curhatan rekan kerja dipakainya sebagai 'umpan' untuk 'mengkail' masalah. Makin impulsif dan sensitif sang atasan, makin mudah lah pekerjaan si muka dua dalam melancarkan serangan black campaign-nya.

SOLUSI:
Di sinilah kearifan Anda sebagai seorang pemimpin diuji. Sebagai atasan, Anda dituntut untuk lebih mengandalkan logika dan fakta di atas emosi. Untuk mendapat informasi yang berimbang, Anda perlu mendengar versi dari pihak terlapor. Lakukan juga klarifikasi terhadap pihak lain yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan laporan yang masuk.

Setelah semua fakta terkumpul, ada baiknya jika Anda mempertemukan kedua belah pihak, baik si pelapor maupun terlapor untuk menguji hipotesis sementara Anda. Kondisi ini memang sangat tidak nyaman, tapi justru di kesempatan ini Anda bisa menangkap inkonsistensi cerita yang biasanya akan ditunjukkan oleh si muka dua.

Khusus menghadapi si muka dua, Anda tak perlu ragu bertindak tegas. Berbekalkan bukti dan fakta yang valid, Anda bisa menjatuhkan ultimatum atau peringatan keras. Tekankan bahwa ulahnya ini bisa menimbulkan kericuhan dan mengakibatkan suasana kerja jadi tidak kondusif. Dan jika perbuatannya ini terus berlanjut, Anda tidak akan segan untuk memberi sanksi berat. (f)

Ingin tahu 3 karakter sulit yang lain? Baca bagian 2 

Baca Juga:
Memaksimalkan Potensi Karyawan Gen Y Untuk Kesuksesan Bisnis Anda
Inilah 3 Cara Untuk Meningkatkan Kapasitas Karyawan


 

 

Naomi Jayalaksana
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article