Ilmu Bisnis UKM

12 Strategi dari Para Pakar untuk Start-Up Agar Bisa Bersaing Secara Global

oleh Cempaka Fajriningtyas
Beberapa tahun belakangan ini, startup Indonesia berada di atas angin. Kehadiran mereka dianggap penting. Bukan hanya sebagai generasi muda yang berkarya, tetapi juga sebagai duta investasi di kancah internasional, sekaligus membangun ekonomi kreatif dalam negeri. Bahkan, data laporan investasi per kuartal yang dirangkum oleh Tech in Asia menyatakan, sebanyak 28 startup di Indonesia telah mendatangkan investasi senilai Rp2,09 triliun pada kuartal 2 tahun 2016. Lantas, bagaimana peluang startup Indonesia untuk terus berkembang pada tahun 2017? Simak saran dan strategi bisnis agar start-up lokal mampu bersaing di kancah global dari 4 pakar berikut ini.
 
1/ Ricky Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia
  • Founder  jangan hanya mengandalkan ide, tetapi harus menjadi pebisnis ulung. Pada dasarnya, porsi ide hanyalah sekitar 10 persen dari kesuksesan sebuah startup. Sisanya, bergantung pada kerja keras dan kemampuan manajemen founder.
  • Jangan hanya mengandalkan populasi Indonesia yang besar. Pahami cara untuk monetizing atau mengubah potensi tersebut menjadi profit. Pelajari cara untuk mengolah database konsumen, perilaku konsumen, dan aktivitas konsumen.
  • Pertajam kemampuan presentasi untuk memuluskan proses pitching pada calon investor, baik lokal maupun internasional. Sebagus apa pun ide dan model bisnis sebuah startup, jika founder tidak bisa menyampaikannya dengan baik dan tepat sasaran kepada calon investor, maka ide itu hanya akan terdengar seperti mimpi.
 2/ Bullit Sesariza , Kepala Bagian Akademis Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI)
  • Founder harus bisa mengerjakan hal-hal teknis sendiri dan harus kuat di salah satu bidang, contohnya menguasai bidang teknologi atau pemasaran atau manajemen. Kemampuan ini penting karena jumlah talent yang siap masih terbatas di Indonesia, sehingga jika founder bisa melakukan hal-hal teknis itu, ia tidak perlu bergantung pada orang lain. Selain bisa menghemat waktu serta biaya operasional dan produksi, ini juga bisa memperkecil kemungkinan founder salah menyampaikan ide atau strategi kepada tim pelaksana.
  • Founder dan tim harus memiliki visi yang jelas dan kuat. Visi merupakan ‘modal’ untuk membangun program kerja di semua elemen. Kelihatannya sederhana,  tapi ketidaksamaan visi bisa membuat sebuah program berjalan tidak sinergi, bahkan pelakunya bisa jadi bekerja tak terarah.
  • Pada dasarnya, startup bisa berjalan jika memiliki konsumen. Untuk itu, sebuah produk atau jasa startup harus sesuai dengan kebutuhan konsumen. Startup juga harus ‘memasang telinga’ untuk menerima feedback dari konsumen dan segera menyesuaikannya. Cobalah berpikir seperti calon pelanggan dan adaptif terhadap kebutuhan mereka.
 
3/ Andi Boediman, Managing Partner Ideosource – incubator venture capital
  • Terkait akses funding yang makin terbatas, para founder perlu berkolaborasi dengan partner strategis untuk bertahan. Partner yang ideal adalah partner yang bisa mengisi value, yang melengkapi startup mereka. Misal, partner yang bisa membuka akses ke pasar, distribusi, produk, teknologi, dan lain-lain.
  • Founder menjadi kriteria utama untuk mendapatkan funding. Untuk itu, founder harus memiliki visi dan program kerja yang kuat.
  • Pemahaman atas market lokal dan pola pikir analitis serta kapabilitas membangun startup yang scalable bisa sejalan, saya pikir kombinasi founder lokal dan diaspora bisa menjadi salah satu solusi untuk memperkaya wawasan.
 
 4/ Karyana Hutomo, ST. MM, Binus Incubator Head of Program – Global Employability and Entrepreneurship BINUS University
  • Founder harus mulai bisa mengenali masalah di industri secara menyeluruh. Pertajam mata, hati, dan telinga untuk memahami masalah yang ada. Kembangkan empati untuk memahami problem sosial dan kebutuhan masyarakat. Misal, jika ingin mengembangkan bisnis kuliner, jangan hanya sibuk memikirkan teknologi atau aplikasi yang canggih, tetapi fokus pada kebutuhan pelanggan. Pelanggan mau apa? Itu yang kita berikan dalam produk dan jasa. Jangan hanya mengedepankan idealisme.
  • Jeli memastikan ceruk pasar yang sesuai produk. Untuk mendapatkannya, founder tidak boleh malas turun ke jalan. Sebab, keinginan dan perilaku itu berubah-ubah dan tidak dapat ditebak. Cobalah untuk banyak ngobrol dengan orang yang potensial menjadi konsumen.
  • Founder harus adaptif terhadap perubahan, baik pada perilaku pelanggan maupun bisnis model. Secara bertahap, lakukan evaluasi agar bisnis kita selalu sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan konsumen. (f)

 

Cempaka Fajriningtyas
-
Share This :

Trending

Related Article