Ilmu Bisnis UKM

Cindy Alvionita, Warunk Upnormal Group: 'Menjual' Cabai Di Postingan Sosial Media

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: dok. Warunk_Upnormal/IG

CRP Group awalnya membuka Nasi Goreng Mafia karena di Jalan Adipati Ukur, Bandung. saat itu, kami melihat fakta bahwa karena di kawasan ini banyak kos-kosan anak kuliah sehingga banyak sekali penjual nasi goreng. Namun nasgor-nya sama semua, yaitu berbumbu kecap. Sebelum memulai bisnis ini, kami kemudian melakukan survei pada 1.000 orang, makanan apa yang paling populer dan kapan bisa dimakan kapan saja?
 
Hasilnya, nasi goreng. Menurut responden, ketika  nggak ada ide mau masak, bikin nasgor. Nggak ada ide makan mau pesan apa saat makan di luar? Nasgor. Akhirnya, kami bangun nasi goreng rempah mafia. Difrensisasinya adalah nasi goreng berbumbu rempah karena Indonesia kaya akan rempah.
 
Nasi Goreng Mafia ini sebetulnya bukan bisnis pertama saya dan keenam teman yang menjadi co-founder, karena sebelumnya kami sempat beberapa kali gagal, seperti bisnis warung padang dan es cendol. Tahun 2013, setelah nasi goreng rempah kami diterima pasar, kami kemudian membuka Warunk Upnormal, dengan makanan khas adalah olahan mi instan.
 
Karena saat itu Instagram sedang booming, kami membuat suasana resto yang membuat orang suka selfie dan posting. Kami membuat banyak spot-spot untuk berfoto, dan ternyata prediksi kami benar. Di Warunk Upnormal, pengunjung memang sibuk foto-foto terlebih dahulu, baru setelah itu menyantap makanannya.
 
Mengapa mi instant? Lagi-lagi, kami tidak melupakan data hasil survei, yaitu menyajikan produk yang mudah diterima masyarakat. Kami yakin, pelanggan nggak keberatan menikmati local food setiap hari dan mampu membelinya. Maka, harganya pun harus terjangkau. Alhmdulilah dari 2013, empat tahun berjalan, kami sudah memiliki 100 cabang. Warunk Upnormal sudah 59 cabang, di 29 kota.
 
Dalam berbisnis, kami akan berusaha melihat, apa yang disukai dari brand kami, lalu kami menyesuaikan dengan apa yang konsumen sukai. Di brand Bakso Bujangan, ternyata netizen menyuka foto-foto yang ‘jorok’, yaitu foto yang tanpa styling cantik namun yang terlihat apa adanya. Misal foto bakso yang sudah diberi cabai, like-nya paling banyak, yaitu mencapai 2.500 likes. Angka ini adalah banyak, menurut kami.
 
Bagaimana dengan video? Kami juga memproduksi video untuk memperkenalkan produk baru. Misalnya, baru-baru ini dari Bakso Bujangan, yaitu mi yamin pedas. Dengan ‘hanya’ memakai smartphone, tetap dengan konsep yang natural dengan memakai banyak cabai, tanpa styling yang terlalu cantik, ternyata video tersebut disukai pelanggan kami. Sebagai bukti, pelanggan yang datang sering menanyakan produk mi yamin yang mereka lihat divideo. Bahkan mereka mengenali staf kami yang menjadi model di video tersebut, dan meminta selfie bersama ha..ha..ha..
 
Dari pengalaman ini, kami kian yakin bahwa membaca market, seperti fakta bahwa pelanggan bakso Bujangan suka pedas-pedas, ternyata memang terbukti bisa digunakan untuk membuat konten media sosial yang bisa menjual. (f)
 

Baca juga:
Cerita Blendtec dan Kekuatan Video Marketing
Workshop: Ini 4 Rahasia Membuat Konten Video yang Keren untuk Bisnis Anda
 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article