Ilmu Bisnis UKM

Kesalahan Paling Umum dalam Tentang Kekayaan Hak Intelektual (HKI)

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Pixabay


Di Indonesia, bahkan di dunia, urusan palsu-memalsu dalam bisnis masih saja marak terjadi. Sebagai pengusaha, Anda tak boleh menutup mata akan hal ini. Itu sebabnya, penting bagi setiap penguasaha untuk melindungi barang atau jasa yang dimiliki. Caranya, tentu saja dengan mengurus HKI (Hak Intelektual Kekayaan).

Apa, sebenarnya HKI itu? HKI adalah hak intelektual yang timbul dari karya-karya yang lahir karena kemampuan intelektual manusia.  HKI bisa dianggap sebagai benda bergerak, tidak berwujud, namun menjadi hak milik kita. Dalam berwirausaha, HKI merupakan salah satu aset terbesar sekaligus menjadi identitas sebuah usaha.

Menurut Ari Juliano, konsultan HKI kalau ingin usaha aman, semua identitas yang dimiliki sebuah usaha sebaiknya didaftarkan. Apalagi kalau identitas usaha itu sangat unik. Berikut ini kesalahan umum dalam HKI:
 
1/ Merek belum didaftarkan
First come, first served. Begitulah prinsip pendaftaran HKI di Indonesia. Jadi, siapa yang datang mendaftar pertama, maka dialah yang akan mendapat haknya. Hal ini berlaku pula jika ada seseorang mengklaim HKI miliknya, maka siapa yang lebih dulu mendaftar, dialah yang akan menang.
 
Contoh Kasus:
Anda memiliki bisnis spa yang cukup maju, sudah berjalan selama 5 tahun, cabangnya pun di mana-mana. Sebut saja namanya Honey Spa. Tapi, Anda belum mendaftarkan nama tersebut. Suatu ketika, ada pengusaha yang tertarik membuat spa dengan nama serupa. Saat dia mengecek ke Dirjen HKI, tahulah dia bahwa nama itu belum terdaftar. Kemudian, dia mendaftarkan Honey Spa sebagai mereknya. Lantas, apa yang akan terjadi pada bisnis spa Anda?
 
Karena Anda belum mendaftarkan merek Honey Spa, Anda bisa diminta untuk menghentikan penggunaan nama Honey Spa, meskipun sudah lebih dulu menggunakannya. Sayangnya, karena tidak bisa membuktikan apa-apa, Anda sulit membela diri. Sementara, dia memiliki bukti kuat, yaitu sertifikat resmi dari Dirjen HKI.
 
2/ Merek terlalu generik
Menggunakan merek yang terlalu umum dan memiliki arti luas, bisa saja merugikan. Pasalnya, ketika Anda sudah berusaha membangun image brand, tetap orang lain sulit mengenali produk Anda karena ada banyak nama serupa untuk produk yang berbeda. Akibatnya, pikiran konsumen jadi terpecah belah. Merek yang Anda miliki tidak langsung menghubungkan konsumen dengan produk Anda saja, tapi juga produk lainnya. Rugi di Anda, ‘kan? Karena itu, sebaiknya pilih merek yang tidak generik.
 
Contoh Kasus:
Anda memiliki bisnis aksesori dengan merek Pink. Sudah punya workshop sendiri, sering diminta kerja sama oleh media televisi, bahkan produknya sudah diekspor ke beberapa negara. Anda juga tidak lupa mendaftarkan ke Dirjen HKI. Namun, ketika ditelusuri lebih jauh, ternyata... merek Pink dipakai juga sebagai merek beberapa produk, mulai dari restoran, butik, hingga peralatan dapur. Anda bisa saja mendaftarkan merek Pink di Dirjen HKI untuk kategori aksesori ini karena memang belum ada pemiliknya. Tapi jika merek tersebut juga terdaftar di sektor lainnya, akibatnya, ketika mendengar nama Pink, konsumen tidak langsung teringat pada aksesori unik buatan Anda.
 
Ada 45 kelas merek di Dirjen HKI. Masing-masing kelas menunjukkan asal produk dan jasanya. Misalnya, kelas satu untuk barang dari karet, kelas dua dari kulit, kelas tiga dari kain, dan seterusnya. Setiap bidang usaha juga terbagi menjadi kelas-kelas, contohnya media, restoran, dan jasa hukum. Jika nama Merah Jambu didaftarkan di kelas satu, lalu didaftarkan di kelas empat, boleh saja. Yang tidak boleh adalah mendaftarkan merek yang sama di kelas yang sama. Masalahnya, jika merek Anda terdaftar di beberapa kelas, Anda juga akan rugi.
 
3/ Penggunaan karya cipta orang lain pada produk
Belakangan ini, orang menjadi lebih mudah menggunakan karya cipta milik orang lain dan menganggap enteng hal ini. Mungkin tanpa disadari, Anfda pernah melakukannya, hal termudah seperti mengambil gambar dari Google. Jika gambar tersebut Anda ambil hanya untuk koleksi saja, tidak jadi masalah. Tapi, ketika digunakan untuk keperluan komersil, Anda harus memiliki izin dari pemiliknya. Kalau main ambil saja, bisa-bisa kita digugat.
 
Contoh Kasus:
Salah satu bisnis yang sedang berkembang saat ini adalah bisnis membuat kue ulang tahun yang dihias dengan gambar karakter terkenal, seperti Angry Birds, karakter Disney, Barbie, hingga model tas keluaran brand internasional. Karena banyak peminatnya, Anda lantas tertarik untuk membusat bisnis serupa. Toh, Anda merasa punya resep kue tart warisan keluarga yang lezat. Untuk hiasannya Anda berpikir tinggal ambil saja gambar dari internet. “Saya mengambil dari Google, kok. Nggak apa-apa, dong! Semua orang kan boleh mengakses Google dengan gratis,” begitu mungkin kata Anda.

Tapi, apa yang mungkin terjadi? Saat menggunakan karya cipta orang lain, termasuk foto yang ada di internet, kita harus meminta izin pada pemiliknya. Apalagi, penggunaan tersebut untuk keperluan komersial. Kita perlu membayar royalti kepada pemiliknya. Kalau main ambil saja, bisa-bisa kita digugat.

Dalam bisnis kue rumahan, kasus ini sempat mencuat belakangan ini, ketika seorang pemilik karya cipta menuntut pembayaran royalti untuk karakter yang dipakai untuk menghias kue ulang tahun. (f)
 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article