Kisah Sukses

Andy Fajar Handika: Sukses Kulina Menyediakan Makan Siang Terjangkau Untuk Karyawan Di Jakarta

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Yos


Jam makan siang bagi karyawan  adalah satu jam yang sangat berharga. Selain waktunya mengisi perut yang sudah keroncongan, jam makan siang juga menjadi waktu break dari rutinitas pekerjaan. Saatnya untuk beranjak sejenak dari cubicle dan layar desktop masing-masing untuk menarik nafas dan menyegarkan mata.

Namun, jam makan siang bagi karyawan di kota besar, khususnya Jakarta, ternyata juga menuntut effort. Apalagi karyawan entry level dengan gaji sekitar 5 jutaan rupiah, pilihan makan siang pun menjadi sedikit. Maklum, harga makanan di Jakarta memang tidak murah. Kalaupun ada menu makan siang yang terjangkau, itupun kebanyakan kelas warteg atau makanan di gerobak kaki lima.

Belum lagi bagi karyawan yang berkantor di gedung-gedung bertingkat, maka untuk mencari makan siang pun butuh usaha lebih. Harus antre di lift kantor yang sangat padat saat jam makan siang adalah salah satunya. Alhasil, makan siang pun jadi terburu-buru karena banyak waktu yang sudah habisuntuk antre turun dan naik lift.

Hal-hal ini ditangkap dengan baik oleh Andy Fajar Handika, founder Kulina.com, sebuah marketplace pemesanan makan siang secara online. Gampangnya, Kulina adalah semacam katering makan siang online. 

“Kulina dimulai dari permasalahan bahwa Jakarta  yang sangat diverse. Kami menyasar market yang spesisifik, yaitu  orang kantoran, entry level dengan gaji 5 jutaan yang menurut data potensial marketnya sebanyak  3 jutaan.  Kami memang tidak berjualan ke semua orang, termasuk bukan kepada orang-orang yang mampu makan siang di resto setiap hari,” ujar Andy, panggilan akrabnya, di acara pembinaan kuliner Wirausaha Muda Mandiri bekerjasama dengan komunitas Wanita Wirausaha Femina.

Menurut Andy, karyawan yang bergaji 5 jutaan per bulan, artinya dia makan di resto dekat kantornya, yang katakanlah sekali makan 50 ribu rupiah, maka itu  1 persen dari gajinya. “Kalau 20 hari kerja dalam sebulan, maka 20 persen dari gajinya,” tutur Andy.

Kulina didesain menjadi  penghubung antara konsumen dengan dapur langsung.  “Sebetulnya, Kulina ini  adalah marketplace buat katering. Pemilik katering tinggal listing produknya di Kulina,” kata Andy.
Karena terjadi hubungan langsung antara konsumen dan katering, maka harga makanan di Kulina bisa dipatok seharga paling murah Rp17.500, dengan gratis ongkos kirim. “Ini harga yang terjangkau di Jakarta.

Kenapa bisa murah? Karena Kulina tidak perlu punya dapur karena dapur mitra Kulina tersebar di seluruh Jakarta, di area-area strategis.  Ketika orang langganan makan siang maka dia akan diarahkan dengan dapur terdekat sehingga biaya kirim jadi sangat terjangkau,” Andy menjelaskan.

Untuk mitra Kulina, diterapkan standar yang tinggi untuk kebersihan dan kelayakannya. Selain itu, mitra juga harus mampu berproduksi 100-300 pack per hari secara konstan.  “Jadi, nggak naik turun karena biaya produksinya jadi mahal,” imbuh Andy.

Seperti bisnis start-up masa kini, branding Kulina juga menggunakan kampanye digital. Langkah-langkahnya adalah:
1/ menumbuhkan awareness
2/ drive traffic
3/convert jadi pelanggan potensial
4/ menganalisis tipe-tipe pelanggan, yang sudah membeli, juga yang repeat order, untuk digunakan menanjamkan iklan dan membuat iklan sesuai dengan segmennya.

Namun, menurut Andy, marketing campaign yang paling kuat adalah dengan membiarkan konsumen yang bercerita. Karena itu, di Kulina, IG story-nya kebanyakan reshare kosumen yang posting tentang Kulina.

“Dengan cara ini  kami justru banyak mendapatngkan konsumen baru,  karena dari data kami menyebutkan 60 persen konsumen baru datang dari referral, yaitu dari teman temannya konsumen yang tahu ada postingan,” ujar Andy yang mengatakan bisnis Kulina ini ia jalankan dari Yogyakarta. (f)

Baca Juga:
BELAJAR DARI ISMAYA GROUP CARA MENJAWAB KOMENTAR NEGATIF DI MEDIA SOSIAL

 
 
 
 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article