Kisah Sukses

Cara 3 Wanita Wirausaha Muda Sukses Jeli Membaca Peluang Bisnis di Tengah Pandemi COVID-19

oleh Citra Narada Putri

Foto: Istimewa

Pandemi COVID-19 memberi pukulan berat bagi sejumlah pelaku usaha. Toko harus tutup, usaha jadi sepi order hingga berdampak pada pemotongan karyawan. Bahkan tak sedikit bisnis yang harus gulung tikar karena tak kuat dengan dampak pandemi pada usaha mereka

Menghadapi situasi ini, tentu para pelaku usaha perlu jeli melihat peluang agar bisa bertahan dan meraup untung. Seperti tiga pengusaha muda,
Amanda Cole (Co-Founder dan CEO Sayurbox), Lintang Wuriantari (Co-Founder dan Chief Tea Executive Officer Matchamu), dan Uma Hapsari (Founder Amazara) yang jeli membaca peluang di tengah kondisi yang menantang bagi para pelaku usaha.

Kisah mereka disampaikan dalam sesi
talkshow virtual kolaborasi #SheMeansBusiness Facebook dan Wanita Wirausaha Femina bertajuk Peluang Bisnis Setelah COVID-19 yang disiarkan secara Live di Facebook Page Wanita Wirausaha Femina pada Selasa, 16 Juni 2020 lalu.

Dalam sesi ini, Uma Hapsari, Founder Amazara, mengaku bahwa di tengah pandemi COVID-19 yang mendorong orang untuk lebih memfokuskan diri membeli kebutuhan dasar, sempat membuatnya khawatir. Karena pada Februari 2020, di awal kepanikan pandemi COVID-19, ia baru saja merilis produk sepatu terbaru Amazara, yang sempat gulung tikar.  

"Aku sempat berpikir, baru
aja mulai (merilis produk baru), tapi udah ada pandemi. Siapa sih yang mau beli sepatu kalau orang-orang pada di rumah semua?," keluhnya saat itu. 

Namun disisi lain, kondisi ini memberikan keuntungan tersendiri bagi Uma. Karena selama pandemi semua orang lebih banyak melakukan aktivitas online di media sosial dan
platform digital lain, ini juga menjadi waktu yang paling tepat untuk menarik perhatian orang agar lebih mengenal brand-nya, Amazara. Bulan Maret lalu Uma membuat terobosan dengan memberikan donasi 200 sepatu kepada tenaga medis. Langkah nyata yang membuat brand Amazara semakin dikenal.

Uma juga memanfaatkan momentum pandemi, dimana semua orang lebih banyak di rumah saja dan memperhatikan media sosial lebih sering, untuk membuat kegiatan-kegiatan secara daring. Misal melakukan sample Sale atau melakukan
sharing session di Instagram Live secara langsung. Dampaknya, diakui Uma, bulan Mei ini omset penjualan sepatunya kembali naik bahkan lebih baik, walau sebelumnya sempat turun.

"Momentum itu kan naik turun, kita nggak tahu apa yang akan terjadi. Namun sebagai pengusaha yang saya tahu kita harus punya
resilience muscle, jadi apapun keadaannya kita harus bisa bounce back lagi,” katanya.

Sementara itu, Lintang Wuriantari, Co-Founder dan Chief Tea Executive Officer Matchamu, mengaku memang ada penurunan omset hingga 50 persen untuk pasokan produk ke kafe dan restoran. Brand-nya cukup beruntung, karena sudah terlebih dahulu melakukan diversifikasi produk untuk kategori F&B service (kafe dan restoran) dan ritel yang telah dilakukan sejak sebelum pandemi. Terobosan yang membantu Matchamu mengimbangi keadaan ketika omset sempat turun. 

Diakui Lintang, penjualan secara online produk Matchamu sebelumnya bukan menjadi fokus utama. Namun ternyata selama pandemi penjualan secara online meningkat hingga 10 kali lipat. Ini pun menyadarkan Lintang dan timnya untuk juga lebih memperhatikan penjualan secara online.  

"Walau
revenue jauh lebih besar ke ritel offline dan supply ke F&B service, namun sekarang kita juga mulai grooming (penjualan online) supaya lebih menarik buat konsumen," tutur Lintang yang melihat kondisi pandemi memberikan peluang manis untuk penjualan online. 

Amanda Cole, Co-Founder dan CEO Sayurbox membangun bisnis penjualan sayur, buah dan bahan pangan lain secara digital sejak tahun 2016. Walau sudah memasuki tahun keempat berkecimpung di industri penjualan digital, Amanda mengaku bahwa pandemi COVID-19 ini justru jadi peluang baru lagi bagi bisnisnya untuk lebih besar. Pasalnya, anjuran untuk tinggal di rumah mendorong orang untuk berbelanja online lebih sering. 

"Di awal pandemi kami sempat menerima pemesanan tinggi sekali. Omsetnya bisa 2 sampai 3 kali dari masa normal," jelas Amanda.  

Bahkan, Amanda mengaku bahwa Sayurbox sempat harus tutup selama seminggu saat pandemi karena kewalahan melayani pesanan secara online. "Tapi di satu sisi kita juga ingin memastikan bahwa kita memberikan layanan yang baik, jadi kita tutup sementara supaya kita bisa meningkatkan layanan agar bisa memenuhi kebutuhan pesanan yang besar," ceritanya.

Di sisi lain, kondisi sejumlah pasar yang harus tutup selama pandemi memberi kelonggaran bagi Sayurbox untuk lebih mudah mendapatkan pasokan buah, sayur, daging hingga bahan pangan lainnya. 

Pasalnya petani yang kehilangan tempat untuk berjualan itu justru bisa memberikan produk-produk mereka untuk Sayurbox. Kondisi ini pun menjadi peluang bagi Sayurbox untuk bekerja sama dengan lebih banyak petani lokal yang pada akhirnya membantu mengembangkan bisnis lebih besar lagi. Sekaligus tetap menyediakan pasar yang sehat bagi petani. 

Baik Uma, Lintang maupun Amanda mengakui bahwa penjualan digital meningkat drastis selama pandemi. Hal ini pun juga diamini oleh pengamat konsumen dan pakar marketing, Yuswohady, di sesi Facebook Live tersebut, yang mengatakan bahwa
brand present digital sangatlah penting.

"Kalau dulu teman-teman UKM hanya melihat ranah digital sebagai opsi kedua, tetapi dengan adanya migrasi konsumen dari fisik ke digital, maka sekarang kesempatan cepat-cepatan kita
digital present, membangun brand di ranah digital. Mumpung masih awal migrasi sebaiknya segera lakukan, " jelasnya.

Kembali disampaikan oleh Yuswohady bahwa memang di tengah pandemi ada sejumlah bisnis yang naik, namun tak sedikit pula yang harus tumbang. Kendati demikian, tak lantas bagi UMKM harus berdiam diri. Pasalnya, walaupun omset mengalami penurunan, namun para UMKM tetap bisa
building awareness terhadap brand.

"Justru sekarang kesempatan untuk teman-teman UKM
brand present di digital. Karena kalau tidak kena pandemi, building brand di digital itu susah sekali. Dengan adanya pandemi, semua orang pegang handphone, maka ada kesempatan untuk building brand di ranah yang baru," papar Yuswohady. 

Untuk diketahui,
Potensi Bisnis Setelah COVID-19* adalah virtual talk kolaborasi kedua antara #SheMeansBusiness Facebook dan Wanita Wirausaha Femina. Sebelumnya, virtual talk mengangkat tema Last Minute Shopping* yang membahas tentang cara meningkatkan penjualan jelang Hari Raya. (*Semua tayangan live talkshow bisa diakses di galeri video Facebook Pages Wanita Wirausaha Femina)

Sejak tahun 2019, Wanita Wirausaha Femina telah bekerjasama dengan #SheMeansBusiness Facebook menggelar
masterclass untuk UMKM wanita di kota-kota di Indonesia, seperti Kupang, Gorontalo, Bandung, Medan, dan Palembang. Mastersclass series ini membahas topik-topik menarik dimulai dari Pemasaran Online, Optimalisasi Halaman Bisnis Facebook, Konten Kreatif, hingga Instagram untuk Bisnis yang disampaikan oleh pelatih-pelatih dari Facebook di Indonesia.

Tahun ini, mengikuti kondisi masyarakat, workshop offline tersebut berpindah platform, dilaksanakan di ruang digital lewat Facebook Live di Facebook Page Wanita Wirausaha Femina. Di tahun 2020 ini, online training yang diadakan oleh Facebook Indonesia telah menjangkau tujuh belas ribuan peserta.

Diharapkan melalui berbagai
talkshow virtual yang diadakan dengan menghadirkan sejumlah pembicara inspiratif ini, dapat memberikan pengetahuan, jaringan, keterampilan serta teknologi yang dibutuhkan para wanita wirausaha untuk memulai dan mengembangkan bisnis mereka. Seperti penggunaan halaman bisnis Facebook yang memiliki banyak fitur yang memudahkan pebisnis untuk membuat jadwal posting sesuai kebiasaan konsumen, melebarkan pasar lewat facebook ads, serta fitur lainnya. 

Dan Anda pun bisa mendapatkan keistimewaan untuk bergabung di
Facebook Group Wanwir Mahir Digital, dimana menjadi wadah bagi wanita wirausaha untuk berjejaring dan mendapatkan ilmu-ilmu digital marketing baru guna mengembangkan bisnis lebih besar lagi. Ayo segera gabung di FB Group Wanwir Mahir Digital, caranya :

1. Klik link https://www.facebook.com/groups/wanwirmahirdigital/
2. Klik permintaan JOIN GROUP
3. Lalu ISI DATA USAHA yang diminta (wajib diisi)
4. Klik Setuju (Agree) rules admin
5. Tunggu approval dari Admin Femina (f)

Baca Juga:


Menjual Produk dari Rumah Selama Pandemi COVID19, Maksimalkan Penggunaan Media Milik Sendiri

Menyiapkan Pelaku Usaha Lebih Tangguh Menghadapi Tatanan Baru

Nike Kurnia Percayakan Pemasaran Nasi Bagoes Lewat Media Sosial

 

 

Citra Narada Putri
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article