Kisah Sukses

Resep Ayah Pada Puyo Dessert

oleh Wiko Rahardjo
Sejak dirintis sekitar 2 tahun lalu, sekarang sudah ada 17 booth Puyo Dessert yang tersebar di beberapa mal di Jakarta dan Tangerang. Kami tentu sangat senang, bisnis kecil yang kami rintis ini akhirnya bisa menjadi bisnis besar. Brand kami identik dengan kudapan puding. Memang sengaja kami arahkan dengan spesifik, supaya  tiap kali orang ingat puding, akan ingat Puyo.

Kami pikir, kreativitas dan inovasi adalah kunci sukses yang selalu kami pegang. Sebab, sekarang banyak pengusaha kuliner yang bergerak di produk dessert dengan berbagai macam jenis. Hal ini rasanya tidak memengaruhi Puyo, karena produk kami sudah memiliki penggemarnya sendiri.

Ide awal Puyo Dessert ini sebenarnya lahir dari keisengan ayah kami yang gemar memasak dan bereksperimen dalam masakan. Suatu kali, ia membuat puding yang rasanya ternyata enak dan teksturnya berbeda dari kebanyakan puding yang dijual di pasaran. Saat itulah kami melihat adanya peluang bisnis yang cukup besar di bidang kuliner, yang memang sedang begitu bergairah di Indonesia.

Kami memulai bisnis ini dengan modal Rp5 juta, yang kami gunakan untuk membeli peralatan dan bahan pembuatan puding. Sebelum menjual ke pasar, kami melakukan uji coba dulu selama kurang lebih tiga bulan. Kami melakukan market test dengan menawarkan puding buatan kami kepada kerabat dan teman-teman terdekat. Responsnya ternyata sangat positif. Juli 2013, kami mulai memasarkannya lewat Instagram dengan label Puyo Dessert khusus untuk wilayah Jakarta dan Tangerang saja. Puding dikemas dalam cup ukuran 240 gram dengan lima varian rasa.

Konsep Puyo adalah light dessert dengan teksturnya yang silky atau seperti sutra. Sedikit rahasia mengenai perbedaan puding Puyo dibanding produk lainnya adalah dalam hal penggunaan susu. Puyo dibuat dengan campuran susu nabati yang dipercaya lebih sehat dibandingkan susu hewani.
Awalnya, sistem pelayanan yang kami jalankan adalah made by order. Konsumen harus memesan terlebih dahulu dua hari sebelumnya. Pesanan selanjutnya akan kami antar langsung ke konsumen. Ketika itu, bisa menjual 100 cup per hari saja rasanya sudah senang. Kini, produksi kami sudah mencapai lebih dari 5.000 cup per hari, dengan harga Rp12.500 per cup.

Selain memasarkan lewat Instagram, kami juga rajin mengikuti bazar dan pop up market. Ini kami lakukan agar awareness masyarakat terhadap brand Puyo terus meningkat. Dari hasil keuntungan tersebut waktu itu kami akhirnya bisa membuka booth pertama Puyo di sebuah mal di kawasan Alam Sutera, Tangerang, pada September 2013. Seiring dengan makin berkembangnya usaha, kami terus berkreasi menciptakan inovasi-inovasi baru, seperti Silky Drink, minuman ringan dengan topping puding Puyo. Kami juga menambah 4 varian rasa baru puding.
Wiko Rahardjo

 

 

Wiko Rahardjo
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article