Kisah Sukses

Resep Sukses Pemilik Tuku: Sehari Mampu Menjual Ribuan Gelas Es Kopi Susu

oleh Nuri Fajriati


Dok: femina


Es kopi susu jadi genre terbaru dari tren minuman kopi yang muncul belakangan ini. Adalah Andanu Prasetyo (29) atau biasa disapa Tyo yang berada di balik toko Kopi Tuku, yang dianggap sebagai pionir tren ini. Tuku dalam bahasa Jawa berarti ‘beli’. 

Memanfaatkan tren aplikasi pesan-antar, Tuku berhasil melebarkan toko mungil di bilangan Cipete, Jakarta Selatan hingga kini memiliki tiga cabang, termasuk cabang terbarunya di Jalan Abdul Madjid, Jakarta Selatan, yang sekaligus berfungsi sebagai warehouse dan kantor. 

Ribuan gelas es kopi susu kini bisa dijual Tuku dalam sehari, omzetnya juga sudah ratusan juta rupiah per bulan. Modal Rp500 juta untuk memulai usaha, sudah kembali berkali lipat. Tyo merasakan ‘manisnya’ bisnis kedai kopi. Semua dimulai sejak ia bertekad memberikan pengalaman minum kopi yang berkualitas, enak, tapi murah. Ia menemukan celah antara kopi sachet pabrikan yang harganya antara Rp3.000 - Rp5.000 dengan toko kopi besar dan artisan yang memberikan harga di atas Rp35.000.

Sarjana ekonomi lulusan Universitas Prasetiya Mulya ini pun memangkas fasilitas ruang nongkrong yang dilengkapi sofa, untuk bisa menjual kopi seharga Rp18.000 hingga Rp28.000. Istilahnya, grab and go. Selain kopi, makanan yang dijual pun sederhana, maksimal seharga Rp10.000. 

Walau terbilang murah, ia tidak main-main. Segelas Kopi Susu Tetangga, menu paling terkenal, dibuat menggunakan ramuan kopi espresso, susu, creamer, dan gula aren cair. Kopi yang digunakan pun hasil roasting (proses menyangrai biji kopi untuk mendapatkan kopi kualitas terbaik) sendiri.

Untuk menjaga kualitas, tiap hari seorang petugas melakukan cupping untuk menguji apakah hasil roasting sudah sesuai keinginan. “Dalam sebulan kami bisa roasting 5 ton kopi. Semua habis untuk kebutuhan Tuku saja,” ujar pria kelahiran 27 Juli 1989 ini.

Saat ditemui femina, Tyo baru saja selesai melakukan rapat dengan konsultan bisnis, tentang rencana bisnis mereka tahun ini. Ia pun bercerita, di balik keberhasilannya menjual es kopi susu, ada pelajaran berharga bagi dirinya dan para pelaku industri kopi. Selama ini, para penikmat kopi berlomba-lomba menjadi ‘pakar’ hingga lahirlah kalangan yang menganggap kopi yang berkualitas itu hanya jenis arabika serta minum kopi yang benar itu harus kopi hitam.

“Waktu itu saya juga termasuk coffee snob. Tapi kemudian saya berpikir, apa ini yang saya inginkan? Sebagai pengusaha kopi, saya ingin kopi enak dan bisa dinikmati lebih banyak orang, sekaligus memberi impact lebih besar bagi petani kopi,” ungkap pria yang juga mengelola Toodz House, resto dan coffee sejak tahun 2010. Tekadnya satu, ia ingin meningkatkan taraf hidup petani kopi dengan cara membeli lebih banyak biji kopi.

“Untuk itu, saya mencari konsep, bagaimana sebagai pelaku kopi di hilir, saya bisa menyerap kopi dari petani dalam jumlah banyak dan konsisten. Caranya, ya, membuat kopi yang laku dijual,” kisahnya, tentang latar belakang berdirinya Tuku.

Memiliki hubungan pertemanan yang baik dengan para penggiat industri kopi, ia tak gentar dipandang miring karena menjual kopi yang dicampur susu, creamer, bahkan gula aren. Sesuatu yang dianggap sebagai sebuah ‘pengkhianatan’ bagi para pencinta kopi sejati.

Keinginan Tyo hanya satu, ia ingin membuktikan bahwa untuk membuat masyarakat Indonesia lebih cinta kopi bukan berarti memaksakan kehendak barista dan membelokkan selera kebanyakan yang memang masih suka rasa manis dan creamy. “Mau diprotes bukan coffee latte juga tidak bisa, namanya saja Kopi Susu Tetangga.  Ya, suka-suka tetangganyalah,” katanya, tergelak. Menurutnya, soal kopi balik lagi ke selera dan budaya.

“Tuku hanyalah kendaraan. Saya cuma ingin punya usaha, ada duitnya, diversifikasi, tapi memberikan impact. Menjadi nomor satu bukan hal terpenting, tapi harus impactful,” ujarnya.

Kini, ia berusaha mempertahankan apa yang sudah berjalan sekaligus memberi impact yang lain. “Saya ingin membuat model bisnis yang lebih ramah bagi difabel. Selain itu, saya ingin memberi pelatihan entrepreneurship untuk anak yatim piatu,” ujarnya. Dua rencana yang sedang ia pikirkan matang-matang. (f)


Baca Juga: 
7 KEDAI KOPI KEKINIAN FAVORIT DI INSTAGRAM, INSPIRASI BISNIS ANDA!
RAKHMA SINSERIA ‘HARUMKAN’ KOPI INDONESIA (1)
TREN KONSUMSI MENINGKAT, PENJUALAN KOPI TUMBUH SIGNIFIKAN






 

 

 

Nuri Fajriati
-
Share This :

Trending

Related Article