Kisah Sukses

Tirta Mandira Hudhi, Pemilik Shoes and Care, Yogyakarta: Merintis Bisnis Laundry Sepatu dan Tas dari Sepetak Kamar Kos

oleh Novita Permatasari

Foto: Dok. Shoes and Care
 
Sepatu dan tas merupakan fashion item penting yang wajib dipunyai setiap orang. Tampilannya yang bersih dan mengilat ampuh mendongkrak penampilan. Makanya, tak sedikit orang yang rela merogoh kocek tak murah demi membersihkan debu maupun kotoran yang menempel pada sepatu ataupun tas, hingga terlihat seperti baru. Oleh beberapa orang, hal itu dilihat sebagai peluang bisnis. Mereka berinovasi menciptakan layanan mencuci sepatu dan tas dengan fasilitas menarik dengan harga bersahabat. Hasilnya? Keuntungan ratusan juta rupiah dalam genggaman. Tertarik menggeluti bisnis ini?

Tirta Mandira Hudhi (25), Pemilik Shoes and Care, Yogyakarta
Dari Sepetak Kamar Kos
 
Awal Berdiri
Saya adalah mahasiswa kedokteran di Universitas Gadjah Mada, yang merantau dari Surakarta ke Yogyakarta. Suatu hari, saya berhasil mencuci bersih sepatu saya  menggunakan sabun cuci sepatu asal Amerika Serikat (AS) yang saya beli di sebuah toko. Teman-teman pun menitipkan sepatunya untuk saya cuci dengan membayar  ala kadarnya. Sejak saat itu, saya yang sedang serba kekurangan menganggap itu sebagai peluang bisnis. Maka, saya pun menyewa sebuah kamar di tempat kos untuk dijadikan tempat usaha pada tahun 2013.
 
Fasilitas
Selain melayani pembersihan, pewarnaan ulang, unyellowing (menghilangkan warna kuning di sepatu akibat oksidasi), dan reparasi, saya juga menawarkan program khusus bagi para wanita, namanya Just For Her. Treatment ini khusus untuk melayani sepatu wanita, seperti flat shoes, wedges, atau high heels. Kini, Shoes and Care juga melayani   produk tas dan topi.
 
Strategi Promosi
Karena target saya adalah wanita sebagai pasar potensial, saya sengaja membuat promo Female Friday. Tiap hari Jumat, konsumen wanita mendapatkan promo khusus hanya membayar satu pasang sepatu untuk dua pasang sepatu yang dibersihkan. Strategi pemasaran yang saya terapkan untuk Shoes and Care juga mengandung konsep ‘nol rupiah’. Sebisa mungkin saya menjaga komunikasi yang baik dengan konsumen lewat maintaining media sosial. Mulai dari website, Instagram, hingga Facebook, bisa digunakan secara gratis dan efeknya bekerja dengan baik untuk menarik konsumen.
 
Tantangan
Mengingat nama Shoes and Care makin mengudara, saya merasa tantangan terbesar adalah bagaimana memperkokoh bisnis yang telah saya bangun selama ini. Oleh sebab itulah, saya juga berusaha aktif melakukan ‘jemput bola’ dengan membuka booth di beberapa event, seperti Urban Gigs di Bandung dan Exposure Market di Yogyakarta. Saya juga mengadakan kerja sama dengan sejumlah radio untuk membuat Shoes and Care tetap bergaung di tengah menjamurnya bisnis sejenis.
 
Omzet    
Setelah berjalan selama tiga tahun lebih, bisnis saya yang awalnya hanya bermodal satu botol sabun cuci,  kini bisa meraup hingga dua hingga tiga miliar per tahun. Dari 20 outlet, masing-masing bisa melayani 20-30 sepatu dalam satu bulan. Kios Shoes and Care saat ini sudah tersebar di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Solo, Semarang, Purwokerto, Surabaya, Samarinda, Bogor, Medan, dan Palembang.
 
Rencana Pengembangan Bisnis
Ke depannya, saya sedang mengusahakan agar Shoes and Care berubah menjadi perusahaan, bukan UKM lagi. Saat ini tantangan terbesar saya dan teman-teman di Shoes and Care adalah memperkuat fondasi yang sudah ada dan meningkatkan sales. Saya sudah dua kali diundang menjadi pembicara acara bisnis ini di Singapura  dan ingin membuktikan bahwa usaha saya bisa memiliki daya saing di kelas internasional.

Tip Bisnis
  • Jangan ragu untuk memulai dan memutuskan sesuatu. Ketika usaha sudah berjalan, trial and error sah untuk dilakukan. Selain itu, kita harus siap juga dengan segala risiko yang mungkin datang.
  • Sebagai pemilik usaha, jadilah contoh yang baik untuk pegawai, karena Anda adalah panutan mereka. Kalau Anda malas, mereka juga mengikutinya. Sebaliknya, jika Anda bersemangat, mereka akan tertular dan terpacu bekerja dengan baik.
  • Banyak orang yang usahanya belum besar, tapi sudah sombong. Makanya, jangan terlalu cepat puas dan terlena dengan hasil awal. Ketika usaha sudah berjalan, tetaplah fokus untuk mengembangkan bisnis. (f)

 

Novita Permatasari
-
Share This :

Trending

Related Article