Liputan

Berpikir Kreatif untuk Membangun Bisnis

oleh Wiko Rahardjo
Geliat anak-anak muda untuk berbisnis sedang tinggi. Dengan bimbingan yang tepat, bukan tidak mungkin mereka bisa menjadi pebisnis sukses dan menjadi roda penggerak perekonomian bangsa.

“Pebisnis muda yang sukses rata-rata memiliki kesamaan dalam hal menemukan ide untuk membangun bisnis mereka,” kata Yoris Sebastian, founder OMG Creative ketika berbicara di hadapan peserta Young & Shine Campus Workshop di Institut Teknologi Bandung (ITB), pertengahan Maret lalu.

Menurut Yoris, dari pendiri Facebook hingga Gojek, menemukan ide bisnisnya setelah mereka memerhatikan keadaan di sekitar mereka. “Mark Zuckerberg mulai menciptakan Facebook karena kampus tempat ia kuliah tak menyediakan buku yang berisi daftar nama dan foto mahasiswa baru yang seharusnya bisa menjadi cara mereka saling mengenal,” kata Yoris. Sementara, kita tahu bahwa Gojek hadir untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta dan memberikan kemudahan kepada pengguna ojek.

Selain peka terhadap kondisi di sekitarnya, ide untuk membangun bisnis yang dimiliki oleh para miliarder muda itu, menurut Yoris, didasari oleh satu kesamaan. “Mereka sama-sama ingin membantu orang keluar dari permasalahannya,” jelas Yoris. Baik Facebook dan Gojek langsung menjadi bisnis yang meledak karena mereka bisa menjawab permasalahan target konsumen mereka.

Workshop  kian hangat dengan hadirnya dua wanita wirausaha muda inspiratif Meyta Retnayu, pemilik Kaynn dan Marreta Nirmanda, Co-Founder Lazuli Sarae yang sama-sama alumni ITB. Putus asa saat menjalankan bisnis memang sering dialami pebisnis pemula. “Agar ini tak terjadi, kita harus tahu dulu apa tujuan kita berbisnis,” kata Meyta.

Meyta, yang sebelumnya menjadi desainer salah satu clothing line asal Bali,  mengaku berbisnis tas berbahan kulit lewat  brand Kaynn karena berpikir lebih baik menciptakan brand sendiri dan membesarkannya ketimbang membesarkan produk milik orang lain. “Ini yang membuat saya semangat membangun bisnis.”

Sementara, menurut Marreta, ide mendesain pakaian batik berbahan denim lewat brand Lazuli Sarae miliknya muncul setelah ia memerhatikan banyak remaja yang malas memakai batik dan menganggap batik sebagai pakaian orang tua. “Saya gabungkan dengan bahan denim karena remaja menyukai itu,” katanya.

Dorongan kepada mahasiswa berwirausaha juga dilakukan dengan aktif oleh ITB. “Kami memfasilitasi mahasiswa dan mahasiswi ITB dalam mengembangkan bisnis, antara lain dengan memberikan bimbingan kepada mereka,” kata  Melia Famiola, Ph.D, Ketua Divisi Pengembangan Kewirausahaan, Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB.

Menurutnya, dalam memberikan bimbingan, LPIK-ITB berkonsentrasi pada pengembangan skill dan knowledge mahasiswa dalam berbisnis. “Itulah faktor dasar yang menurut kami penting dalam mengembangkan karakter seorang pebisnis,” jelasnya.

Young & Shine Campus Workshop merupakan rangkaian dari program Young & Shine Entrepreneur yang digagas Wanita Wirausaha Femina dan Pantene. “Kami akan datang ke beberapa kampus lain di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya untuk terus menumbuhkan semangat berwirausaha di kalangan remaja,” ujar Yoseptin Pratiwi, Program Manager Wanita Wirausaha. Sampai jumpa di kampus berikutnya.
 Wiko Rahardjo 

 

Wiko Rahardjo
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article