Liputan

Time To Go Digital!

oleh Wanita Wirausaha Femina
“Dengan paket wisata di GoArchipelago.com, kami ingin memfasilitasi para pelancong menikmati wisata pilihan sekaligus turut membantu warga lokal.” Tepuk tangan meriah terdengar saat Bening Rara menutup presentasinya di sesi pitching Google Launchpad Week Jakarta, akhir 2015 lalu. Dengan penuh percaya diri, lulusan Jurusan Periklanan, FISIP, Universitas Indonesia, itu menjawab pertanyaan para mentor yang pada hari itu sekaligus menjadi dewan juri.

Dari TOP 3 Startup hari itu, dua ide segar di antaranya digagas oleh wanita, yaitu GoArchiepelago.com dan Rumah Bengkel. Jumlah wanita yang menekuni bisnis digital startup memang belum sebesar pria. Bahkan, di hari itu hanya tampak beberapa wanita yang menjadi bagian dari tim startup terpilih. Benarkah bisnis digital startup terkesan maskulin sehingga jarang dilirik kaum hawa?

Konsep ‘Travel with a Cause’ yang diusung oleh GoArchipelago.com berhasil membawa timnya menjadi salah satu dari Top 3 Startup. Ide bisnis perjalanan juga datang dari tim Rekreasy.com, yang membantu pengguna mencari pemandu wisata lokal. Namun, tim GoArchipelago dinilai lebih unggul karena menawarkan nilai lebih dengan misi meningkatkan kesejahteraan warga lokal di lokasi wisata lewat Go! Community Development Projects. Salah satu paket wisatanya menawarkan kegiatan hiking dan mengajar bersama komunitas Anak Nusantara di Ujung Kulon.

Berbagai ide bisnis unik lainnya ditampilkan dalam platform digital, misalnya PaketID, sebuah aplikasi yang membantu memudahkan pemilik toko online mengirim produk mereka ke pelanggan, GetVet, aplikasi pencari dokter hewan, hingga Lunasin, aplikasi pengingat untuk melunasi utang.

Dari pengamatan Erica Hanson, Google Launchpad Week Manager, startup Indonesia menghadapi tantangan serupa dengan startup di negara lain. “Para wirausaha baru ini belum semua paham tentang produk mereka, dan bahkan masih ada yang belum punya pelanggan. Yang menarik, beberapa startup sangat spesifik dalam melihat masalah dan kebutuhan masyarakat, mulai dari e-commerce, travel, hingga membuka peluang lapangan kerja baru di Indonesia,” ujarnya.

Salah satunya  Rumah Bengkel, yang dianggap berhasil mengembangkan produk yang didasarkan pada kebutuhan yang sangat spesifik, yaitu membantu para mahasiswa dan profesional pemilik kendaraan bermotor, terutama para ibu rumah tangga yang tidak punya waktu ke bengkel dan memiliki pengetahuan terbatas tentang mesin. Ide layanan ini muncul saat Vierda Andriani, Co-Founder dan CEO Rumah Bengkel, merasa dirugikan saat memperbaiki AC mobil yang rusak di sebuah bengkel. Menurutnya, ia dikenakan ongkos yang terlalu mahal, padahal AC tersebut tidak pulih sempurna.

“Biasanya, kalau para ibu rumah tangga ke bengkel lalu keliru mengganti spare part, dan sampai rumah ditanya suaminya, malah dikomentari ‘sok tahu’. Bukannya satu masalah selesai, tapi bikin rumah tangga tambah ruwet,” ujar Vierda, sambil terbahak. Perkara penggantian spare part yang tepat ini sebelumnya menjadi masalah Vierda di pekerjaannya. “Perusahaan tempat saya bekerja punya 500 truk dan saya bertanggung jawab untuk memasukkan spare part yang benar, dan biayanya sangat mahal!” lanjutnya.

Saat ini ada 10 juta mobil yang beroperasi di jalanan, dan penjualan kendaraan bermotor terus meningkat. Potensi bisnis ini yang dijual Rumah Bengkel ke tim juri saat pitching. Rumah Bengkel menawarkan layanan bengkel yang bisa dipanggil di saat darurat, yang didasarkan pada pengalaman kakak Vierda. “Mobil kakak perempuan saya pernah mogok di tol saat larut malam. Dia sempat bingung harus minta bantuan siapa,” cerita Vierda.
Rumah Bengkel menyebar informasi layanan mereka lewat jejaring sosial dan social chat, seperti Facebook, WhatsApp, dan BBM grup ke komunitas sekolah dan perumahan. Rumah Bengkel dianggap dewan juri memiliki model bisnis yang sangat masuk akal, serta bentuk aplikasinya sudah dieksekusi dengan baik. 

RAHMA WULANDARI


 

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article