SDM

Manjusha Nusantara: Tetap Ikut Tren

oleh Wanita Wirausaha Femina
Perhiasan sebagai bentuk ekspresi diri yang sangat individual itu sudah lama disadari orang, terutama para wanita. Kini seiring dengan arus besar di kalangan urban yang kembali mencintai budaya negeri sendiri, mengenakan replika perhiasan etnik Indonesia sebagai fashion statement dalam berbusana sehari-hari bukan lagi hal aneh. Di sini harus diakui ada peran Manjusha Nusantara, yang boleh dibilang menjadi pihak pertama yang membuat trend ini bisa terjadi.

Tetap Ikut Tren

Bila di awal kemunculan mereka harus menghadapi para pembeli yang clueless sehingga tega menawar hingga 90%, kini hal seperti itu tidak lagi terjadi. Kini ketiganya boleh bangga ketika mendengar ada orang yang dengan mata berbinar-binar mengatakan, ‘Oh, saya memakai Manjusha, lho…’ “Tetap masih ada, sih, yang nawar tapi itu lebih sebagai kepuasan saja. Namanya juga wanita. Kalau tidak mendapatkan diskon rasanya ada yang kurang,” ujar Ria Glenn, tertawa.

Yasmin Wirjawan menyebut, mengapa Manjusha yang bisa didapatkan di 5 outlet, yaitu Alleira, Hadiprana Jewelry, dan Dia.Lo.Gue Artspace ini bisa diterima khalayak, itu juga tak lepas dari upaya mereka untuk mengawinkan perhiasan etnik ini dengan tren fashion dunia. “Tidak bisa lepas dari trend fashion karena kami ingin perhiasan ini menjadi bagian dari fahion sehari-hari,” ujarnya.

Tentu mereka memiliki strategi untuk melakukan perkawinan ‘dua dunia’ itu. Misalnya, sama seperti kiblat mode dunia di Paris, Milan, London dan New York, tiap tahun Manjusha juga mengeluarkan koleksi baru untuk spring/summer di bulan Maret dan fall/winter di bulan September. Namun, di antara keduanya juga ada koleksi-koleksi yang mereka sebut ‘ad hoc’, misalnya koleksi Peranakan, untuk menyambut tahun baru Imlek. Setiap tahun, Terry Wijaya Supit menyebut, Manjusha bisa memproduksi sekitar 1.000 hingga 1.200 pieces. Ini termasuk item best seller juga selalu diproduksi, seperti kalung bohru Aceh, kalung kanatar tulip Sumba, juga permata Bali.

Arahan fashion juga diterapkan dalam pemilihan ragam hias Nusantara yang dinilai memiliki benang merah dengan trend yang sedang berjalan. “Misalnya untuk trend spring/summer 2015, selain bentuk-bentuk perhiasan yang light, kami menemukan bahwa yang sesuai trend adalah yang berbentuk tribal,” tutur Ria.

Pemilihan bentuk perhiasan pun bukan berdasarkan per daerah, melainkan dicari di tiap daerah bentuk perhiasan mana yang sesuai dengan benang merah. Kerana itu, bisa saja dalam satu koleksi baru, cincin berasal dari Jawa, giwang dari Sumatra, Kalung dari Sumba dan lain sebagainya, namun secara keseluruhan, mereka memiliki benang merah yang searah dengan trend fashion.

    Ketika kini Manjusha sudah menjadi brand yang diperhitungkan, salah satunya dengan diajak kolaborasi oleh desainer dan selama dua tahun ini menjadi perhiasan untuk pemilihan Putri Indonesia, termasuk yang bertanding ke ajang Miss Universe, bukan berarti segalanya berlangsung mulus. “Tampaknya seperti glamour ya, padahal capek banget karena printilannya banyak,” tutur Yasmin yang mengurus bagian bisnis dan keuangan Manjusha, diikuti tawa lebar.

    Terus terang, mereka baru sadar, bisnis yang diawali sebagai ‘main-main’ itu kini sudah membesar dan harus ditangani dengan serius. “Dulu ketika membuat Manjusha kita berseloroh, ya sudah kalau nggak laku ya kita pakai sendiri saja. Ternyata, tanpa disadari kita terjun ke retail. Sementara, di retail banyak banget hal kecil yang mesti diurus, misalnya saja melabeli harga harus satu demi satu. Kalau pameran juga harus ikut loading hingga menjaga stand karena harus siap-siap menjawab setiap pertanyaan konsumen,” imbuh Ria.

    Belum lagi, karena semua handmade, mereka juga bergantung pada perajin. Bukan cerita baru, bahwa bisnis yang membutuhkan craftsmanship seringkali tersandera ‘ulah’ perajin yang artisan dan moody. “Masyarakat kita itu kan kebanyakan cepat puas. yang namanya perajin, dapat uang agak banyak langsung minta libur kerja, mau pergi mancing, ada yang kawin lagi.. ya persoalan-persoalan seperti ini memang makanan kami sehari-hari,” ujar Terry.

    Namun hal tersebut tak membuat mereka putus asa. Dengan pendampingan dan memberi harga yang bagus, lama-lama akan timbul kepercayaan di kedua belah pihak. Manjusha juga sering mengajak perajin untuk datang ke pameran atau event Manjusha. Tidak disangkal, kadangkala para perajin pun terkaget-kaget bahwa dengan kualitas yang bagus, packaging dan penataan yang baik, maka produk mereka bisa dihargai orang.

 “Hal ini kami lakukan juga agar tradisi kerajinan ini tidak hilang begitu saja. Maklum, perajin di Indonesia itu kebayakan adakah turun temurun dan belum ada sekolahnya. Hal ini tentu berbahaya karena bisa saja nanti punah,” imbuh Yasmin. Itulah sebabnya Manjusha sama sekali tidak keberatan dengan banyaknya followers karena dengan demikian maka dunia kerajinan ini akan terus semarak yang artinya Manjusha ikut serta preserve some of Indonesian heritages.

Kini, setelah bisnis yang mereka rintis telah menampakkan hasil, apalagi mimpi mereka?  “Kami ingin Manjusha Nusantara yang selama ini konsumennya kebanyakan masih di Jakarta dan sekitarnya bisa menyebar hingga ke daerah-daerah,” tutur Ria, praktisi PR yang di Manjusha bertanggung jawab mengenai kehumasan dan partnership.

Menyasar pasar dalam negeri bukan berarti mereka abai dengan konsumen luar.  Namun mereka memilih fokus untuk dalam negeri dilandasi pengamatan bahwa pasar luar negeri memang menyukai perhiasan etnik, namun mereka kebanyakan memburu koleksi yang benar-benar antik, bukan replikanya. “Kami tetap berpromosi ke luar negeri, paling tidak kami menjadi corong bahwa Indonesia memiliki kekayaan perhiasan seperti ini. Kalau mau berburu yang antik, silahkan datang sendiri,” tutur Terry.

Ria menambahkan, tantangan mereka yang sebenarnya adalah membuat bagaimana agar kecintaan akan perhiasan adati ini tidak menjadi tren sesaat, melainkan menjadi benda yang terus menerus dicari dan dipakai. “Kami ingin hal ini long lasting,” kata Ria yang disambut anggukan setuju Terry dan Yasmin.(Yoseptin Pratiwi)

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article