Marketing & Services

Baca Ini Sebelum Menggunakan Trending Topic Untuk Brand Anda

oleh Yoseptin Pratiwi

Foto: Pixabay

Selama ini, content marketing yang sukses cenderung yang dekat dengan ‘sorot lampu’ ketimbang relevansi. Lantas, apakah selalu mengikuti trending topic menjadi hal penting untuk meningkatkan peluang  Anda ‘dikemukan’ dalam pencarian secara organik?

Secara potensi, ya memang benar demikian. Namun, jika Anda tidak konsisten dengan content marketing itu sendiri sebelum memanfaatkan trend, atau Anda tidak cukup kreatif untuk membuat sesuatu yang cocok dengan trending topic, maka upaya Anda itu tidak akan banyak berhasil.

Beberapa brand yang menggunakan trending topic untuk bisnis mereka –baik yang sukses maupun yang gagal- bisa kita jadikan inspirasi saat sedang membuat content marketing yang disarikan www.pylx.com.

Yang Gagal
Satu hal penting adalah memastikan bahwa kita selalu memasang telinga atas apa yang terjadi di sekitar kita. Mungkin kita akan terkejut ketika melihat fakta bahwa banyak perusahaaan yang mengkapitalisasikan hashtag yang sedang trending, atau yang secara tidak pas menggunakan hashtag yang sedang trending tersebut.

Sebagai contoh adalah Entenmann, perusahaan cake dan roti, yang pada tahun 2011 mencuit dengan hestek #notguilty, untuk mengekspresikan rasa percaya bahwa konsumen tidak perlu merasa bersalah saat memakan makanan rendah kalori mereka. Mereka gagal menyadari bahwa hestek tersebut sedang trending, tapi untuk persoalan lain yiatu, pengadilan Casey Anthony, seorang ibu yang dituduh membunuh anak perempuannya yang berumur 2 tahun.

Meski dengan cepat meminta maaf, perusahaan tersebut menjadi bahan pembicaraan dengan memakai hestek yang salah waktu, saat dunia maya sedang dalam kondisi yang emosional.

Yang Berhasil
Ketika Anda memiliki opsi untuk untuk melakukan serangan, lakukan itu dengan baik. Sebuah tweet yang salah bisa dibalik menjadi sebuah keberhasilan, tentu dnegan kreatifitas dan kecerdasan.Kita bisa belajar dari kasus Palang Merah yang pada tahun 2011 tiba-tiba nge-tweet tentang excitement mereka saat menghabiskan malam dengan meminum bir Dogfish Head dengan memakai hestek #gettingslizzerd.

Alih-alih ikut mengejek Palang Merah, Dogfish Head justru menggunakan tweet ‘salah’ itu layaknya stempel bahwa produk mereka bisa diminum oleh siapapun, termasuk lembaga non-profit di bidang kemanusiaan. Bahkan mereka meng-encourage konsumen mereka untuk berdonasi kepada Palang Merah. Dalam kasus ini, Dogfish Head memperoleh review yang positif, bagaimana bisa menggeser percakapan menjadi positif sekaligus fokus terhadap service.

Tahu Komunitas Anda
Brainstroming memang penting untuk mencari dan menghubungkan ide-ide yang ada, namun Anda harus tahu konten yang paling pas untuk brand Anda. Jika ide tidak cocok untuk pembeli Anda, sebagus apapun ide itu, jangan dieksekusi. Lakukan riset sendiri, dan gunakan kanal yang pas. Entah itu konten di blog atau postingan media sosial atau hestek, pastikan Anda menggunakan platform yang paling pas saat deliver konten tersebut.

Jadikan Milik Anda
Jangan takut untuk menggunakan meme yang sedang trend dan mengadaptasinya untuk brand Anda. Memang tidak ada satupun orang yang suka melihat konten yang saya sama di berbagai tempat, namun mereka sebetulnya menyukai perasaan ‘sudah mengetahui’. Cerdaslah dengan mengadaptasi pesan dan menjadikannya milik Anda sendiri akan lebih bermakna.

Sederhana Saja
Sebaiknya, bikinlah konten yang lugas dan langsung. Trending topic memang menyenangkan untuk diikuti dan bisa meningkatkan persepsi publik terhadap brand Anda bila Anda mnegikuti progress-nya, namun konten yang viral cenderung berumur singkat. Karena itu, hindari menggunakan trending topic dengan berlebihan, dan pastikan Anda tidak terlalu terlambat untuk ikut mencebur ke keriuhan itu dengan konten Anda sendiri. (f)

Baca Juga:
Cindy Alvionita, Warunk Upnormal Group: 'Menjual' Cabai Di Postingan Sosial Media
Menyiasati Trend Pemasaran
 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article