Keuangan

Menjaga DNA Produk

oleh Wanita Wirausaha Femina
Ketatnya persaingan di dunia usaha, memaksa para pengusaha mati-matian membangun loyalitas kepada calon pelanggan. Dunia digital yang memungkinkan suatu produk atau merek bisa tampil sejajar dengan brand yang sudah lebih dulu eksis, tidak menjamin konsumen segera melirik atau membeli produk yang Anda jual. Jika pemilik brand tidak jeli, sedikit saja berbuat kesalahan, calon konsumen dengan segera angkat kaki dan tidak lagi menengok  produk Anda!

Menengok bisnis beberapa tahun lalu, rasanya cukup mudah menggaet konsumen untuk membeli produk yang Anda jual. Kalau menjual makanan, pastikan rasanya lezat dan sesuai selera. Menjual baju, harus nyaman dipakai. Tetapi sekarang, menurut konsultan brand Paulina D. Purnomowati, perilaku atau behaviour konsumen sudah berubah, tidak lagi sesederhana itu. “Mereka menginginkan total experience sebelum membeli produk atau memilih brand tertentu. Jika masuk ke toko, dia tidak langsung menuju ke produk yang akan dibeli, melainkan melihat dulu desain atau tampilan tokonya, merasakan pelayanannya ramah atau tidak, apakah secara keseluruhan memberikan kenyamanan berbelanja atau sebaliknya,” papar wanita yang akrab disapa Pungky ini.

    Perilaku yang sama juga diterapkan saat konsumen berbelanja di dunia maya, walaupun mereka tidak memegang produknya secara langsung. Konsumen ingin merasakan pengalaman yang menyeluruh saat berbelanja secara online: apakah website-nya mudah diakses atau tidak, jika mengajukan pertanyaan apakah direspons dengan cepat atau sebaliknya, saat mengajukan keluhan ditanggapi dengan baik atau tidak, dan seterusnya. Inilah yang menjadi perhatian jika Anda ingin mulai membangun loyalitas dengan calon pelanggan di online. Anda perlu konsisten menjaga DNA dan kualitas produk, agar selalu tercermin dalam segala saluran promosi dan pelayanan (service).

    “Hati-hati, terkadang untuk setia dan jujur dengan DNA produk itu tidak dipatuhi oleh UKM. Sering kali jati diri owner lebih kuat dibandingkan dengan brand itu sendiri. Ego pemilik brand lebih kuat daripada brand DNA-nya. Ada kecenderungan, sebagai pelaku wirausaha, kita merasa ini adalah brand saya, produk saya, sehingga sayalah yang tahu mana yang terbaik. Ini bisa berbahaya, karena saat kita membangun bisnis, konsep yang harus dituju adalah: it’s all about consumer, not about me,” tegas wanita yang juga menjabat sebagai General Manager Licensing & Fashion di Global Brands Group ini.

    Ia pun mencontohkan bagaimana konsistensi brand lokal Cotton Ink yang awalnya hanya berjualan via blog, kemudian merambah di media sosial, hingga pada akhirnya mendirikan sebuah toko, mengomunikasikan brand mereka. “Dalam berbagai promosi di beragam format media, kita akan menemukan DNA yang sama dari brand bernama Cotton Ink tersebut. Sehingga, jika tiba-tiba, misalnya, mereka posting status yang berbeda, konsumen akan merasa bahwa ini bukan Cotton Ink lagi.” (F)

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article