News

Itang Yunasz, Dian Pelangi dan 5 Desainer Busana Muslim Indonesia Terpilih Dalam Eksibisi Contemporary Moslem Fashions di San Francisco

oleh Yoseptin Pratiwi

Karya Itang Yunasz (kiri) dan karya Dian Pelangi yang dibawakan model Halima Aden (kanan)
Foto:the Fine Arts Museum of San Francisco

Indonesia sebagai negara dengan umat Muslim besar dan industri busana Muslim yang kian menggeliat sudah tentu masuk dalam sorot dunia mode. Hal ini terlihat ketika 7 desainer busana Muslim Indonesia terpilih untuk memamerkan karya mereka dalam eksebisi Contemporaru Moslem Fashions di de Young Museum, San Francisco, Amerika Serikat pada 22 September 2018 sampai 6 Januari 2019.
 
Mereka adalah Itang Yunasz, Khanaan Luqman Shamlan, Dian Pelangi, Renni Andriani, Anandia Marina Putri Harahap, Rani Hatta dan Windri Widiesta Dhari.

Dalam siaran press yang diterima femina, Contemporary Moslem Fashions adalah eksibisi museum besar yang digelar pertama kali untuk mengeskplorasi kekayaan dan kompleksitas busana Muslim di seluruh dunia. Ajang yang dibuat oleh the Fine Arts Museum of san Francisco ini menampilkan bagaimana wanita Muslim –baik yang menggunakan hijab maupun tidak- menjadi ‘wasit’ gaya berbusana baik dalam komunitas maupun masyarakat luas yang pada akhirnya mengundang perhatian lebih jauh kepada kehidupan mereka sehari-hari.
 
“Memang ada yang percaya bahwa tidak boleh ada fashion dalam kehidupan wanita Muslim. Namun di sisi lain, kenyataannya adalah adanya fashion untuk wanita Muslim juga tumbuh pesat, terutama di negara-negara dengan penganut Islam yang besar,” ujar Max Hollein, mantan Direktur dan CEO the Fine Arts Museum of san Francisco.
 
Pameran ini menonjolkan tempat, garmen dna gaya berbusana dari berbagai belahan dunia untuk menggambarkan bagaimana individual dan masyarakat menginterpretasi busana yang sopan (modesty).
 
“Fashion menemukan hal terbaiknya ketika berhasil mengadaptasi kebutuhan masyarakat sekaligus merefleksikan sosial dan politik yang berlaku,” ujar Jill D’Allesandro, Kurator.
 
Pameran akan dibuka dengan pengenalan mengenai industri busana modest (yang saat ini omsetnya sudah menyentuh 44 milyar USD per tahun). Desainer busana modest sudha mulai dilirik oleh peritel besar di Barat, contoh yang terbaru adalah brand Verona yang berhasil masuk ke Macy’s.
 
Dalam pameran juga ada bagian mengenai berbagai bentuk penutup kepala, elemen penting dalam busana wanita Muslim. Di bagian ini akan diperlihatkan betapa bervariasinya penutup kepala, dan disebutkan pula bahwa tidak setiap wanita Muslim mengenakan hijab.
 
Bagaimana industri busana Muslim merambah sosial media juga menjadi bagian penting dalam pameran ini. Bagaimana gaya personal bisa menjadi landasan untuk pembicaraan dan isu yang lebih luas, seperti tentang gender, ras, hingga agama. Indonesia diwaliki oleh Dian Pelangi.
 
Sementara, Itang Yunasz, Khanaan Luqman Shamlan dan NurZahra terpilih karena eksplorasi mereka terhadap kekayaan tekstil dan kain tradisional Indonesia. Mereka dinilai berhasil menggunakan kain-kain dengan warna yang vibrant dan motif yang rumit untuk menjadi modest wear.
 
Pameran ini juga menampilkan bagaimana rumah mode besar mengakomodasi kebutuhan wanita Muslim. Karena bagaimana pun, sejak pertengahan abad ke-20, kelompok elit wanita Muslim merupakan pelanggan penting bagi rumah-rumah mode di Paris. Belakangan, di setiap Ramadan dan Lebaran, rumah mode seperti Oscar de la Renta pun mengeluarkan koleksi khusus. (f)

Baca Juga:
Jalan Panjang Karier Itang Yunasz di Dunia Fashion
Feny Mustafa Sukses Membesarkan Label Baju Muslim Shafira Dengan Modal Awal Pinjaman Dari Ibu

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article