News

Meningkatnya Tren Pesanan Makanan dan Belanja Online di Masa PSBB, Penyumbang Terbesar Sampah Rumah Tanga

oleh Prima Sabrina

Foto: Pexels


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh oleh Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), penggunaan layanan pesan antar meningkat di area Jabodetabek selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Jasa pesan antar makanan dan produk belanja online meningkat dua kali lipat dan 96% diantaranya dikemas dengan plastik.
 
Perubahan kebiasaan belanja rumah tangga seperti ini berkontribusi terhadap meningkatnya sampah plastik sekali pakai dalam persentase sampah domestik selama PSBB. Hal ini penting mengingat sampah rumah tangga merupakan penyumbang terbesar dari total sampah nasional, yaitu hingga 62%.
 
Menyikapi keadaan ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap upaya produsen dalam mengurangi sampah. Hal tersebut dilakukan dengan pengumpulan data jumlah dan jenis bahan baku produk dan kemasan yang mereka gunakan.
 
Sementara itu, kampanye pengurangan sampah dari rumah terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menekan jumlah timbulan sampah secara nasional. Contohnya dengan memilih produk yang dapat dikomposkan, didaur ulang, dan dapat diguna ulang
 
“Pemerintah telah menerbitkan kebijakan untuk mewujudkan peta jalan pengurangan sampah oleh produsen yang dapat menjadi panduan bagi upaya pengurangan sampah menuju era baru pengelolaan sampah. Peran produsen menjadi salah satu elemen penting dalam mewujudkan manajemen pengelolaan sampah yang lebih baik,” ujar Dr. Ir. Novrizal Tahar IPM, Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Republik Indonesia
 
Menurut Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri, Pakar Teknologi Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), penuntasan masalah sampah hanya bisa dicapai dengan adanya kesadaran dan partisipasi semua pihak, baik produsen maupun konsumen. Produsen memiliki tanggung jawab untuk mengurangi sampah dengan inovasi kemasan dan model bisnis. Ini bisa dilakukan misalnya dengan memilih produk berkemasan guna ulang yang bisa dikembalikan.
 
“Sedangkan konsumen perlu memilih produk yang sifatnya sirkular atau bisa dikembalikan agar jumlah sampah yang dihasilkan bisa ditekan. Selain itu, penting juga memilah sampah rumah tangga atau bahkan mengolah sampah organik di rumah untuk kegunaan lain seperti kompos misalnya,” ungkapnya.
 
Turut berpartisipasi menanggulangi timbulnya sampah sebenarnya tidak sulit. Bagi Swietenia Puspa Lestari, penyelam dan pendiri Divers Clean Action (DCA) perhatian kepada lingkungan dapat dilakukan dengan cara sederhana, misalnya mengenakan masker guna ulang, menggunakan peralatan makan cuci ulang, dan memilah sampah dari rumah guna membantu pengelolaan sampah secara optimal tanpa mencemari lingkungan. “Dengan mengubah perilaku di rumah, kita turut mencegah kerusakan lingkungan yang berpotensi menimbulkan bencana kesehatan di kemudian hari,” pungkasnya. (f)

Baca Juga:
Cegah Penyebaran COVID19, Produsen dan Pengantar Harus Menjamin Keamanan Pangan

Tip Wirausaha: Tambah Variasi Produk untuk Menyelamatkan ‘Cashflow’ Usaha

5 Kebiasaan Konsumen yang Berubah di Masa COVID19, Peluang Bagi Pelaku Bisnis



 

 

Prima Sabrina
-
Share This :

Trending

Related Article