News

Wise Women Jakarta 2019: L angkah Mudah Pencatatan Keuangan Bisnis dan Resep Sukses Dapur Cokelat Melintasi Perubahan Market

oleh Yoseptin Pratiwi
Foto-foto: dok.Wanwir

Setelah tahun 2018 melakukan roadshow ke 10 kota besar di Indonesia, workshop kekewirausahaan Wise Women Entrepreneur Masterclass hadir kembali tahun ini di 6 kota, dengan Jakarta menjadi kota pertama. Program edukasi kewirausahaan ini merupakan kerjasama program pengembangan komunitas Wanita Wirausaha Femina bersama Commonwealth Bank dan Center for Inclusive Growth dari Mastercard.

Di Jakarta,bertempat di Yello Hotel di kawasan Harmoni, workshop setengah hari ini menghadirkan dua pembicara yaitu Arresto Ario, Business Transformation Advisor Commonwealth Bank yang membawakan tema Wise Financial Module dan founder Dapur Cokelat Ermey Trisniarty dengan tema: Business F&B: Market Behavior & Business Plan.

Antusiasme peserta yang berupaya mengembangkan bisnis mereka.
 
Wise Financial Module membahas pentingnya pencatatan keuangan bisnis, satu hal krusial bagi bisnis sehingga sudah seharusnya dikerjakan sejak bisnis dimulai. Pelatihan ini merupakan salah satu cara Commonwealth Bank untuk meningkatkan literasi keuangan wanita Indonesia, yang angkanya memang masih cukup rendah. Selain dalam bentuk kelas-kelas pelatihan, WISE yang merupakan singkatan dari Women Investment Series juga memiliki mobile apps yang bisa diunduh secara gartis di Playstore dan Google Play.

Arresto Ario memulai sesi dengan menjelaskan pentingnya laporan keuangan secara umum, yaitu  untuk memantau perkembangan usaha dan menjadi syarat saat bisnis kita sudah memerlukan pinjaman dari pihak lain. “Ada tiga laporan keuangan usaha yang harus dimiliki setiap pebisnis, yaitu Catatan Transaksi, Laporan Rugi-Laba dan Necara,” kata Ario, begitu panggilannya.

Ario kemudian menjelaskan dengan terperinci bagaimana mengisi Catatan Transaksi yang unutk bisnis mikro dan kecil, masih bisa dilakukan dengan sederhana lewat tabel Excell. “Catat setiap transaksi pembelian dan penjualan dengan rutin. Karena bila sudah menumpuk dan kita sama sekali tidak punya pencatatannya, maka kita jadi tidak tahu kondisi usaha kita sebetulnya seperti apa,” pesan Ario.

Arresto Ario dengan terperinci memberikan tip membuat laporan keuangan yang praktis.
 
Ario juga menekankan pentingnya mencatat nama customer. Mengapa? “Itu bisa mnejadi database pelanggan sehingga kita tahu, oh customer A suka barang ini model ini, jadi ketika kita sedang ada barang baru atau sedang promo model tersebut, maka kita bisa menawarkan ke dia,” kata Ario.

Diskusi kemudian berlanjut ke soal gaji owner. Maklum, sebagaian besar wanita wirausaha mengawali bisnis dengan modal yang tidak besar. Bisnispun dikerjakan sendiri, termasuk kadang mengerahkan anggota keluarga untuk membantu.

“Di sini, siapakah yang sudah mengaji diri sendiri?” tanya Ario. Ternyata hanya sekitar 10 orang saja yang mengacungkan jari. Alasannya, “Belum ngerti cara menghitungnya,” kata Liana yang berbisnis makanan Ayam Kodok.

Penghitungan gaji pemilik menjadi salah satu yang banyak ditanyakan.
 
Owner sebaiknya harus digaji sejak bisnis itu pertama kali berdiri.  Lho, kan belum ada pemasukan. Tetap harus digaji, kata Ario, dan masukkan gaji itu sebagai bagian dari modal usaha. Karena  dengan menggaji diri sendiri, kita jadi tahu apakah bisnis kita menguntungkan atau justru rugi. Bisa jadi kelihatannya bisnis kita untung, tapi begitu gaji owner diterapkan sebetulnya, bisnis kita masih rugi. Ario pun berbagi tip, untuk usaha yang baru dirintis, UMR daerah bisa dijadikan patokan untuk besaran gaji owner. “Nanti, kalau sudah ada untung, bagikan sebagai bonus,” sarannya.

Catatan kedua adalah anggaran, dengan syarat kita sudah memiliki pencatatan transasksi sebagai basis data membuat penganggaran. Misalnya, pada Lebaran mendatang, kita harus mengaanggarkan apa saja, misalnya THR pegawai, THR pemilik, THR tukang sampah, bahkan kalau kita punya langganana ojek, juga harus kita anggarkan THR-nya.
Program Manager Wanita Wirsauah Femina Yoseptin Pratiwi (kiri) memberikan token of appreciation kepada Alveinia Winata (kanan), Internal Communication & CSR Specialist Corporate Communication, Commonwealth Bank.
 
“Kalau kita melakukan pencatatan anggaran dengan benar, maka kita bisa membuat prioritas. Misalnya, di hari raya, kita anggarkan belanja dua bulan sebelumnya sebelum harga naik, sehingga setelah harga naik, kita sudah punya barangnya,” kata Ario.

Sementara pencatatan Rugi-Laba diperlukan agar pemilik bisnis tahu, apakah dalam keadaan untung atau rugi. Rugi-laba diperoleh dari pendapatan dikurangi biaya yang sudah dikeluarkan. “Kalau kita beruntung tentu kita senang, tapi kalau kita rugi, maka kita bisa evaluasi, mengapa merugi, apa yang harus diubah? Apakah cara kita berbisnis, mencari supplier baru dan lain sebagainya,” kata Ario.

Memahami Konsumen
 
Ermey Trisniarty saat berbagi pengalaman bisnis.
 
Pada sesi kedua, founder Dapur Cokelat, cake shop yang didirikan pada tahun 2001 dengan outlet pertama di Jl. Ahmad Dahlan, Kebayoran Baru, Ermey Trisniarty berbagi pengalaman bagaimana memahami perllaku konsumen dan memiliki business plan menjadi hal penting bagi bisnis miliknya bisa eksis hingga saat ini.

“Bagaimana kami tahu apa yang dibutuhkan konsumen kami? Dari survey,” kata Ermey, wanita lulusan NHI Bandung ini.  Dari data, konsumen Dapur Cokelat 53% menganggap produk Dapur Cokelat adalah produk untuk special event seperti ulang tahun, Natal, Lebaran, dan lain-lain. Sebanyak 27% mengaku membeli produk Dapur Cokelat untuk diberikan kepada kolega dan 15% yang membeli untuk dinikmati sendiri.
Sukses Dapur Cokelat yang menginspirasi peserta untuk bisa mengembangkan bisnis mereka.
 
Data ini, bagi Dapur Cokelat, menjadi bahan untuk strategi bisnis, bahwa produk Dapur Cokelat memberikan rasa bangga sehingga layak untuk diberikan kepada orang lain. “Hasil ini menuntut kami untuk melakukan inovasi terus menerus. karena yang dibutuhkan konsumen adalah untuk gift. Saat ini, R&D kami harus bisa menghasilan 4 produk baru tiap tahun yang sesuai dengan market,” kata Ermey.

Namun, bisakah consumer behavior berubah? “Bisa banget, karena itu kita butuh business plan. Di Dapur Cokelat, kami menyusun business plan di akhir tahun, di awal tahun, menyosialisasikan ke tim menajerial, lalu kami evaluasi, apakah sudah sesuai dengan perencanaannya. Masih usaha rumahan dan merasa tidak perlu business plan? Tidak bisa lagi. Karena dengan business plan kita bisa melihat bagaimana bisnis kita berkembang,” kata Ermey.

Ermey juga bercerita bagaimana maraknya online dan media social sempat memberikan efek kepada bisnisnya.  “Tepatnya oada tahun 2016, ketika terjadi perubahan budaya membeli, dari yang tadinya senang ke outlet berubah membeli online. Call center kami sepi. Business plan pun berubah. Kami kerjasama dnegan online courier, dan online payment dan mobil apps yang sedang kami jalankan. Kita harus berubah sesuai dengan perubahan market behavior,” pungkas Ermey.

Acara siang itu ditutup dengan pembagian hadiah-hadiah, dari best posting, best dress hingga peserta yang beruntung mengisi kuesioner. Sungguh cara terbaik menghabiskan hari Sabtu yang penuh ilmu. Tunggu Wise Women di kota berikutnya, Bogor. (f)

Baca Juga:
WISE WOMEN BALI: BELAJAR PENGELOLAAN KEUANGAN UKM DAN KEKUATAN STORYTELLING UNTUK BISNIS DI SOSIAL MEDIA
WANITA WIRAUSAHA BATAM: BELAJAR STANDAR KEAMANAN PANGAN UNTUK BISNIS KULINER
 
 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article