News

Wise Women Semarang: Belajar Pencatatan Transaksi Keuangan Serta Aplikasi Trend Untuk Produk Lokal

oleh Yoseptin Pratiwi

Sabtu, 27 Juli 2019, Semarang menjadi kota ketiga rangkaian workshop kewirausahaan UKM yang di tahun ini akan diselenggarakan di 6 kota di Indonesia. Workshop setengah hari yang membahas tema Membuat Laporan Keuangan bersama Arresto Ario, Business Transformation Adviser, Commonwealth Bak dan Nonita Respati, desainer sekaligus founder Purana Indonesia, clothing line yang mengusung wastra Indonesia, tentang bagaimana mengaplikasikan trend dunia yang tidak meracuni untuk produk lokal.
 
Dengan drescode kuning, peserta workshop mulai berdatangan sejak pukul 8.30 pagi.
“Hari ini kita akan belajar sesuatu yang sangat menarik. Karena selain memelajari bagaimana membuat laporan keuangan yang sederhana dan tidak rumit, juga hadir Nonita Respati yang akan berbagi pengalaman pentingnya aplikasi trend,” ujar Petty S Fatimah, Pemimpin Redaksi Femina sekaligus Pemimpin Komunitas Femina dalam sambutannya.
 
Alveinia Winata, Internal Communication & Community Eggagement Specialist Corporate Communication Commonwealth Bank mengatakan salah satu alasan  Commonwealth Bank memiliki program edukasi keuangan buat wanita yang bernama Women Investment Series (WISE) karena banyak wanita yang mampu menghasilkan pendapatan dari rumah.

Alveinia Winata dari Commonwealth Bank menyambut #wisewomen
 
Salah satu pembahasan dalam aplikasi WISE yang bisa diunduh secara gratis di Google Play dan Play Store adalah cara mengatur keuangan, termasuk membuat laporan keuangan bisnis yang gampang dan sederhana.
 
Apa Saja Yang Dicatat?
 
Tidak dipungkiri, pencatatan keuangan sering dipandang sebagai hal yang ribet dan memusingkan. Sehingga akhirnya ditunda-tunda. Karena itu, Ario, demikian panggilan akrab Arresto Ario, pun memberikan pemahaman mengapa pencatatan keuangan itu penting. “Yang penting adalah bagaimana kita membuat sesederhana mungkin tapi berguna buat kita. Kalau ditanya, apakah bisnis kita sudah untung? Janga sampai menjawab..kayaknya sih untung,” ujar Ario, disambut tawa peserta.

Ario membimbing #wisewomen untuk mencatat laporan keuangan.
 
Berikut ini yang harus diperhatikan saat bicara laporan keuangan usaha:
1/ Pencatatan Transaksi: Ini adalah hal yang paling sederhana, mencatat. Apa yang dicatat? Pengeluaran dan Pemasukan (Penjualan). Semua yang berkaitan dengan transaksi dicatat.
 
Di Penjualan, yang dicatat ada penjualan tanggal berapa, siapa customer-nya, bayar lunas atau hutang, juga keterangannya apa: misalnya cicilan 3 bulan. “Pencatatan juga membuat kita mengetahui siapakah customers kita dan apa kesukaan masing-masing. Misalnya, si Ibu A paling suka hijab warna kuning. Kalau ada barang baru, kita bisa akan menawarkan kepada dia. Seorang customer kalau ditawari secara personal pasti akan senang,” kata Ario.
 
Setelah melakukan pencatatan, kita akan bisa membuat anggaran. Dulu ketika kita memulai usaha, kita sering tidak tahu berapa biaya yang akan dikeluarkan tiap bulan? Tapi dengan mencatat kita jadi tahu, misalnya fluktuasi yang terjadi tiap bulan. Dengan pencatatan yang rutin, kita bisa membuat anggaran.
 
“Dengan memiliki anggaran, kita bisa melakukan efisiensi. Misalnya, kita jadi tahu kalau biaya transpor makin mahal. Dengan melihat hal ini, maka harus dilihat misalnya tidak belanja tiap hari,” urai Ario.
 
2/ Laporan laba rugi
Kalau punya usaha, pasti pengennya untung. Tapi dengan melihat pencatatan ternyata rugi, lihat catatan apakah ada yang salah. Oh ternyata, belanja modalya terlalu besar. Atau biaya gaji staf terlalu banyak, karena sudah menggaji 4 orang sementara hasil penjualan belum sampai ke total gaji pegawai. Mungkin kita tidak perlu 4 orang, tapi cukup 2 orang saja.
 
Dengan demikian, memiliki anggaran bisa bikin prioritas. Semua pencatatan yang kita buat itu kemudian digunakan untuk membuat laporan laba rugi. Kalau untung lanjutkan, kalau rugi, ganti strategi.
 
3/ Neraca
Apa saja yang ada dalam neraca? aset, hutang, kekayaan. Intinya, neraca untuk mengetahui kita punya kekayaan itu berapa.
 
Agar Trend Tidak Menjadi Racun

Nonita Respati berbagi pengalaman.
 
Bisa nggak, sih, kita mengadaptasi trend baik yang lokal maupun tradisional. Bagaimana trend tidak meracuni produk kita sehingga jatunya mengkopi atau mencontek?” demikian Nonita Respati mengawali sesi kedua workshop.
 
Trend tidak hanya pada fashion tetapi di berbagai bidang.  Sementara, trensetter- pencetus gaya, seseorang yang memulai gaya baru atau trend tersebut. Artis, selebgram, publik figure, juga desainer bisa menjadi trendsetter.
 
“Kita bisa menjadi trendsetter, peran pencipta produk atau desaner, peran ibu-ibu adalah menciptakan yang baru dan relevan dengan kemauan masyarakat karena at the end kita harus profit,” ujar Noni.
 
Lalu, pentingnya pengaplikasian trend:
 
1/ kalau kita sensitif terhadap trend kita akan membuat produk yang relevan, kekenian dan bisa dinikmati dan dibeli. Pernah beberapa tahun lalu, baju model peplum, waktu itu semua bikin, tapi kalau sekarang kita keluarin produk itu, nggak akan dibeli karena diaggap tidak relevan.
 
2/ inovasi, kita bikin label fashion dan produk tapi tiaps eason mengeluarkan yang itu-itu saja, orang season depan akan bosan.
3/ Memperluas market base, tidak hanya ibu-ibu, tetapijuga remaja mau membeli produk kita.
 
4/ meningkatkan popularitas brand dan penjaualan.
 
5/ membuat produk kompetitif di pasar lokal dan global.
 
Noni juga membagi pengalaman dalam mencari sumber trend yaitu bisa lewat internet dan media massa, termasuk majalah fashion. Lalu, faktor dalam trend yang harus dipahami:
Warna, warna faktor penentu utama ketika kita mau beli baju. Mengerti warna yang lagi trend sangat penting.
 
Potongan/cutting, sering terjadi, dalam mengadaptasi trend, produk bisanya mengkopi langsung dari runway. Ple-plekan contek hanya diganti kain batik saja. Menurut Noni, ini sangat berisiko. “Sebetulnya dengan mengetahui teknis potongan, maka ketika  baju kita dipakai maka tidak miring-miring atau kerut-kerut sehingga konsumen yang membeli tidak merasa rugi sudah mengeluarkan uang ntuk produk kita. Purana sendiri banyak bermain di cutting yang oversize agar bisa masuk ke konsumen yang beragam.
 
Mix& match: harus dipahami agar bisa membuat konsumen membeli barang kita lebih dari satu. Dalam pemotretan produk, outer yang ini bisa dipadu padan dengan atasan yang ini atau celana yang itu. Hal itu bisa membuat konsumen impulsif membeli.
 
Namun Noni mengingatkan, dalam pengaplikasikan trend global, hindari mengopi. “Karena kecenderungan orang menjiplak, pada akhirnya membuat DNA produk kita tidak terbentuk sehingga orang mau mencari brand kita juga bingung,” pesannya. Mengambil sebuah trend itu bukan kopi, melainkan esensi.
 
Yang tak kalah penting adalah menyelaraskan trend dengan melihat demografi konsumen kita, usia, profesinya, bagaimana habit berbusananya, iklim tempat kita menjual baju seperti apa, dan sebagaimana. “Usahakan untuk komunikasi dengan chanel atau reseller kita di setiap kota, karena pengalaman saya di tiap kota dan daerah berbeda item yang diminati.  (f)
 
 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article