News

Wise Women Surabaya 2019: Cara Mudah Membuat Laporan Keuangan Dan Tip Sukses Offline Online Marketing

oleh Yoseptin Pratiwi

Senyum cerah para wanita wirausaha Surabaya saat belajar membuat laporan keuangan bisnis yang baik.

Wise Women Entrepreneur Masterclass kembali hadir di Surabaya, pada Sabtu 5 Oktober 2019. Acara workshop kewirausahaan UKM ini merupakan kolaborasi komunitas Wanita Wirausaha Femina, Commonwealth Bank dan Mastercard yang di tahun ini akan diselenggarakan di 6 kota di Indonesia.
 
Workshop setengah hari yang membahas tema Membuat Laporan Keuangan bersama Edrin Sunandar, Vice President Bancassurance Product Head Bank Commonwealth dan Rizky Arief Dwi Prakoso, co-founder NAH Project dan CEO, tentang bagaimana mengaplikasikan trend dunia yang tidak me dan co-founder HMNS Marketing Consultant tentang Marketing Scenario: Integrating Offline-Online.
 
Dengan drescode kuning, peserta workshop mulai berdatangan sejak pukul 08.30 pagi yang bertempat di Hotel 88 Embong Malang, Surabaya.


Alveinia Winata memberikan sambutan dan mengatakan aplikasi WISE bisa diunduh secara gratis.
 
Alveinia Winata, Internal Communication & Community Eggagement Specialist Corporate Communication Commonwealth Bank mengatakan salah satu alasan  Commonwealth Bank memiliki program edukasi keuangan buat wanita wirausaha Women Investment Series (WISE) karena banyak yang masih membutuhkan  pengetahuan mengelolaan keuangan bisnis yang baik. Aplikasi WISE juga bisa diunduh secara gratis di Google Play dan Play Store.
 
Catat 3 Hal Ini!
Edrin Sunandar mengawali sesi dengan bercerita tentang kakek dan keluarga besarnya yang merupakan pebisnis. “Kakek dan ayah saya misalnya, meski dengan mencatat di buku secara manual, tapi dilakukan secara rutin dan menjadi kebiasaaan sehingga dengan pembukuan yang simpel itu mereka jadi tahu apakah bisnisnya untung atau tidak,” ujarnya.

Edrin Sunandar membantu para wanita wirausaha memperbaiki laporan keuangan bisnis meraka.
 
Wanita, menurut Edrin memiliki prospek yang lebih besar dalam berbisnis, karena memiliki ketekunan. “Tapi, kendalanya apa?”  Banyak hal, dari masalah keluarga, kurang mendapatkan akses dalam pelatihan, juga kurang akses kepada modal.
 
“Tapi satu hal yang sering dilakukan wanita adalah mencampur pengeluaran pribadi dan usaha. Ketika akan mengajukan pinjaman misalnya, jadi bingung karena syarat dari bank adalah memiliki laporan keuangan. Sehingga 6 bulan sebelum mengajukan pinjaman dia harus membetulkan rekeningnya,” kata Edrin.
 
Dalam laporan keuangan ada tiga:
1/ Pencatatan transaksi
2/ Rugi laba
3/ Neraca
 
Pencatatan Transaksi: Ini adalah hal yang paling sederhana, mencatat. Apa yang dicatat? Pengeluaran dan Pemasukan (Penjualan). Semua yang berkaitan dengan transaksi dicatat.
 
Setelah melakukan pencatatan, kita akan bisa membuat anggaran. Dulu ketika kita memulai usaha, kita sering tidak tahu berapa biaya yang akan dikeluarkan tiap bulan? Tapi dengan mencatat kita jadi tahu, misalnya fluktuasi yang terjadi tiap bulan. Dengan pencatatan yang rutin, kita bisa membuat anggaran.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya.
 
Laporan laba rugi: kalau punya usaha, pasti inginnya untung. Tapi dengan melihat pencatatan ternyata rugi, lihat catatan apakah ada yang salah. Ternyata, kita belum saatnya memiliki karyawan karena memang belum sanggup menggajinya.
 
Dengan demikian, memiliki anggaran bisa bikin prioritas. Semua pencatatan yang kita buat itu kemudian digunakan untuk membuat laporan laba rugi. Kalau untung lanjutkan, kalau rugi, ganti strategi.
 
Neraca : Apa saja yang ada dalam neraca? aset, hutang, kekayaan. Intinya, neraca untuk mengetahui kita punya kekayaan itu berapa.
 
Karena Offline Masih Disukai
Setelah memulai bisnis dengan mendirikan NAH Project pada tahun 2017, Rizky yang pernah bekerja sebagai copywriter di sebuah brand sepatu kulit pria, mengatakan bahwa dalam bisnis itu adalah tentang survival. “Sampai di bulan ke-4, dengan produk senaker bernama SN-04, kami baru laku setelah SN01, SN02 dan SN 03  tidak laku karena produknya adalah sepatu kulit,” kata Rizky.
 

Rizky Arief mengatakan, bahwa yang melek teknologi pun masih berbelanja offline
untuk produk-produk tertentu, salah satunya adalah sepatu.
 
Menurutnya, saat melakukan riset, pihaknya mengetahui peluang sneaker sehinnga membuat sneaker untuk produk keempat, SN-04. “Kami membuat sistem pre order, ternyata ada 70 orang yang pesen, kami mulai senang karena sebelumnya jual 50 pasang saja sulit. Akhirnya, kami fokus ke sneaker,” ujar Rizky.
 
Setelah salah satu produk sneaker Nah Project dipakai Presiden Jokowi, memang brand ini kemudian menjadi bahan perbincangan netizen. Tapi, diantara yang memuji juga banyak yang mempertanyakan, apa sih istimewanya sepatu yang dipakai Jokowi ini? Ah, paling-paling juga milik keluarga presiden, banyak juga yang menyangka demikian.
 
“Kami sempat sebal, karena kami riset dan tidak membayar Bapak Jokowi justru beliau membeli produk kami, kok malah diomongin miring. Kami pun berpikir lebih jauh sehingga menemukan formulasi bahwa Nah Project ingin memberikan sesuatu bagi anak-anak muda di Indonesia,” kata Rizky.
 
Akhirnya, waktu terjadi gempa bumi Lombok, mereka merilis produk yang sebagian profitnya untuk korban gempa. Bekerjasama dengan kitabisa.com, mereka berhasil mengumpulkan Rp50 juta. “Kami tegaskan, kami adalah brand yang berpihak ke Indonesia, bukan ke satu per satu orang. Ini yang membuat orang makin percaya pada Nah Project,” ujar Rizky.
 

Seratus wanita wirausaha Surabaya yang penuh semangat untuk mengembangka bisnis mereka.
 
Lalu, mengapa harus mengintegrasikan marketing secara offline dan online?
 
“Kami belajar, orang yang belanja online, ternyata masih belanja offline juga. Dulu kami mikir, yang belanja online adalah anak muda dan melek digital, ternyata kami lihat datanya, fifty-fifty. Banyak juga anak muda yang tidak mau belanja sepatu secara online. Kalau kita tidak memanfaatkan offline, kita bisa kehilangan separuh dari market.”
 
Ketika sepatunya dipilih Jokowi pun itu karena Nah ikut berpameran di salah satu event. Secara diam-diam, ada stylist Jokowi yang datang ke booth-nya dan melihat sneaker tersebut. Jadi, menurut Rizky, aktif di komunitas yang sesuai dengan pangsa pasar produknya itu menjadi keharusan.
 
Untuk brand barunya saat ini yaitu HMNS Perfume, produk parfum untuk cowok dengan harga terjangkau, ia memilih sosial media. Setelah di Instagram tidak bisa mengangkat, ia mencoba Twitter dengan memakai beberapa influenser untuk me-review produknya. Benar saja, setelah ada 2 orang yang memiliki follower banyak memposting, pada hari yang sama ia mendapatkan 700 orang membeli.
 
Kami meliat, ternyata pencetus seseorang untuk membeli produk itu beda-beda. Kalau sepatu, melihat foto produk saja bisa membuat orang memutuskan membeli, namun untuk parfum, keputusan membeli lebih dipengaruhi oleh testimonial. (f)


 

 

 

 

Yoseptin Pratiwi
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article