Agenda

Urban Farming: Lahan Terbatas Bukan Halangan

oleh Wanita Wirausaha Femina
Bila di Amerika ada Michelle Obama yang memprakarsai gerakan penghijauan. Indonesia, punya Ridwan Kamil, Pendiri Komunitas Indonesia berkebun yang memiliki misi untuk menyebarkan semangat positif peduli lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming.

Green Architect yang akrab disapa Emil ini memberikan workshop “Urban Farming Is FUN!” pada Festival Wanita Wirausaha 2012. Konsep urban farming adalah memanfaatkan lahan tidur di perkotaan yang dikonversi menjadi lahan pertanian produktif hijau yang dilakukan oleh masyarakat dan komunitas sehingga dapat memberikan manfaat bagi mereka.

“Berkebun bukan hanya pekerjaan petani yang konvensional, tetapi bisa menjadi suatu budaya baru yang tak hanya bermanfaat secara ekologi tetapi punya nilai ekonomi dan estetika. Dan dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk dilakukan!,” ujar Emil.

Sarjana Teknik Arsitektur yang juga Dosen di Institut Teknologi Bandung ini mengatakan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi, tapi Indeks of Happiness-lah  yang  mengukur seberapa bahagia Anda. “Tidak perlu punya harta banyak, namun Anda dapat menemukan kebahagiaan dengan cara sendiri, salah satunya urban farming. Ini adalah solusi yang paling mudah, namun ideal,” ungkapnya.

Stres sudah menjadi bagian dari keseharian kaum urban, entah stres karena aktivitas rutin, stres dengan pekerjaan atau kemacetan yang menyebabkan penurunan kualitas hidup. Menurut riset psikologi bila Anda merasakan stres, rasa marah, frustasi maka dengan menyentuh tumbuhan kadar emosi negatif Anda akan berkurang. Dan juga riset lain menunjukkan dengan sensasi warna hijau dari alam baik visual maupun rangsangan dapat meningkatkan kerja otak. “Dengan gerakan Indonesia berkebun Anda dapat mengurangi kadar stres, juga mempererat kebersamaan dengan keluarga, teman kantor, sahabat dengan melakukan aktivitas berkebun bareng tiap weekend. Anak-anak pun memiliki variasi hiburan yang lain daripada hanya sekedar jalan ke mal.,” jelas Emil.

Dengan urban farming selain dapat membuat lingkungan menjadi lebih subur, income Anda juga akan bertambah!. “Kebun Anda bisa menghasilkan panen sayuran-sayuran, buah-buahan untuk di konsumsi sendiri atau dijual. Kemudian, yang tak kalah dahsyatnya adalah perasaan yang Anda dapatkan saat memetik hasil panen, lalu dimasak untuk makan bersama-sama keluarga atau teman, priceless!,” kata lelaki berkacamata ini.

Bila Anda tidak memiliki area pekarangan yang luas, urban farming dapat memacu kreativitas Anda dalam berkebun. Misalnya, menanam seledri dan tomat didalam tabung air atau pipa paralon. Lalu, menanam sayuran seperti bayam, kangkung, caisim, cabe, kangkung atau bayam  dalam wadah bambu, gayung, dan batok kelapa.  Pilihan lainnya adalah menanam tanaman secara vertikal di dinding rumah Anda atau menjahit potongan plastik sebagai kantung untuk bunga-bunga yang indah.

Tampaknya anggapan bahwa wanita modern itu tidak suka berkebun karena takut panas atau takut kotor, ternyata salah!. Buktinya acara ini dipadati oleh banyak sahabat Femina, yang mayoritas wanita. Mereka semua antusias mendengarkan paparan dari pria yang meraih gelar Master of Urban Design dari College of Environmental Design, University of California, Barkeley di Amerika Serikat ini.

Workshop pun menjadi semakin atraktif saat para peserta diajak untuk melakukan demo menanam benih selada, tomat dan cabe . Peserta workshop sangat bersemangat mengikuti arahan dari Emil dan rekannya Ida Amal.  Mereka melemparkan benih diatas sepetak tanah dalam wadah dan memberikan pupuk lalu meratakan tanah dengan sekop. Semua peserta melakukan demo ini dengan senyuman di wajah. Ternyata memang benar, urban farming is a fun thing to do!

Woro Hartari Trianti

 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article