Liputan

Wanwir Masterclass: Ilmu Membaca dan Mengaplikasikan Tren

oleh Wanita Wirausaha Femina


Menjadi pebisnis sudah pasti harus jeli melihat keinginan pasar. Apalagi pebisnis yang produk atau jasanya berkaitan dengan gaya hidup, maka bisa membaca selera pasar itu menjadi kewajiban. Kita tak ingin mengabaikan pasar, bukan? Untuk itu, Wanwir Masterclass datang ke Yogyakarta untuk membahas ilmu yang wajib dimiliki para pebisnis ini: Trend Forecasting Untuk UKM. 


Pelajari Rumusnya!

Wanwir Masterclass kali ini sungguh istimewa. Pertama, femina berkolaborasi dengan Gendhis Natural Bags, brand tas berbahan natural, asli Yogyakarta, Fery Yuliana, pemiliknya, adalah pemenang Lomba Wanita Wirausaha femina 2008. Kedua, Wanwir Masterclass juga didukung oleh BCA Smartcash yang memberikan solusi mudah bagi pebisnis kecil yang sedang ‘kebingungan’ modal. 

Tema Trend Forecast ini menghadirkan Diaz Parsada, Business Development Director British Council Indonesia yang sekaligus pengamat trend. “Semua bisnis yang sangat berkaitan dengan gaya hidup, seperti fashion, kuliner, craft, bahkan travel, harus siap terus-menerus menciptakan produk baru,” ujar Diaz.

Bila dulu, katakanlah di era 90-an, dalam setahun hanya 2 kali produk baru dirilis ke pasar (spring/summer dan fall/winter), di tahun 2000-an menjadi 4 kali setahun, dan beberapa tahun belakangan bisa 6 kali produk baru dilempar ke pasar. “Bahkan gerai high street label, bisa setiap bulan ada produk baru,” ujar Diaz.

Pusing? Tentu saja. Karena tentu bukan hal mudah terus-menerus menciptakan produk baru. Tetapi Diaz memberikan rumusnya. 

“Setiap kali kita mengeluarkan koleksi baru, rumusannya adalah:  klasik 50%, sesuai tren 30% dan new ideas 20%,” katanya. Klasik adalah produk-produk kita yang terbukti disukai dan selalu habis terjual saat kita produksi. Jadi, ini sebetulnya bukan produk baru. Lalu 30% lagi adalah produk-produk yang mengikuti trend. Sedangkan 20 persen adalah produk dari ide kita yang baru. “Saat mengeluarkan koleksi baru, jenisnya jangan terlalu banyak, antara 10-20 jenis saja. Misalnya kita mengeluarkan 10 jenis produk, maka yang klasik itu ada 5, yang trend 3, dan yang benar-benar baru ada 2 jenis produk.”

Novita Yunus, pemilik Batik Chic yang juga finalis Lomba Wanita Wirausaha Femina 2012 dan finalis EY Entrepreneurial Winning Women 2014 dalam sesi sharing mengaku menggunakan rumus 50:30:20. “Sebelum masuk ke program Indonesia Fashion Forward (program inkubasi desainer Indonesia kerjasama Jakarta Fashion Week, British Council dan badan Ekonomi Kreatif-Red) saya tidak pernah berpikir untuk produksi BC harus sekian-sekian. Yang penting produksi saja. Karena itu ada satu masa, mungkin karena salah membaca tren, saya punya stok banyak banget,” kata Novita.

Pemakaian rumus itu juga membuat Novita terhindar dari kemandekan inovasi karena hanya memproduksi barang yang laku terjual. “Dulu, saya pikir, produksi jenis-jenis produk yang tergolong fast moving saja, kan yang penting laku. Tapi kalau begini terus berarti saya tidak berkembang,” imbuh Novita yang sukses membawa BC ke pasar mancanegara.

Bicara tentang tren, sebetulnya ada tiga hal: warna, motif dan tekstur. Namun, sebelum kita bicara tentang aplikasi trend, satu hal penting yang harus digarisbawahi adalah menemukan brand identity masing-masing. “Identitas brand kita itu apa? Apa yang menjadi jiwa dari brand kita? Apa Unique Selling Point kita? Hal unik apa yang membuat konsumen memilih produk saya?” kata Diaz.

Brand identity itulah yang akan menjadi jangkar ketika kita harus mengaplikasi tren. Intinya, “Hanya ketika kita sudah tahu indentitas kita, kita akan bisa memilih warna mana yang cocok dengan konsumen produk kita,” ujar Diaz. 


Solusi Modal

Setelah mempelajari pentingnya menemukan ‘jiwa’ brand dan cara mengaplikasikan tren agar sesuai dengan jiwa brand masing-masing, peserta masterclass diajak berkenalan dengan solusi mudah bagi yang ‘kebingungan’ modal. Kali ini Theresia Parikurniafinancial advisor dari BCA menerangkan tentang BCA Smartcash.

“Selama ini yang banyak dikenal masyarakat adalah kredit bank berupa kredit modal kerja yang harus menggunakan agunan, kini ada cara yang lebih mudah,” ujar Nia. Maklum, untuk pebisnis UKM, kadang-kadang soal agunan ini menjadi masalah karena ada usaha yang masih atas nama orang tua, suami atau usaha kongsian dengan teman. 

“BCA Smartcash ini berbentuk kartu seperti kartu kredit dengan limit minimal Rp10 juta hingga Rp100 juta. Karena itu, bila ada yang ingin kulakan bahan baku butuh dana sekitar Rp5 juta atau Rp10 juta kartu ini sangat cocok,” terang Nia. Selain bisa memberikan solusi tanpa agunan, bunga BCA Smartcash pun tergolong sangat murah, yaitu 1,8% per bulan atau per hari adalah 0,06%. Cara penggunaan kartu ini juga mudah, yaitu bisa tarik tunai di ATM, transfer uang (ke supplier misalnya), dan bisa digunakan di mesin edisi.


Kata Mereka

Wiwin Kuswinarti, Wastraloka

Saat saya mendengar BCA Smartcash, langsung tertarik karena mudah penggunaannya. 


Vivin Findyka, Amora Jewelry

BCA Smartcash sangat membantu kita untuk berbelanja bahan baku. Solusi yang tepat bagi saya.



 

Tim Wanwir
Femina Indonesia
Share This :

Trending

Related Article